Menakar Prospek Permintaan Gas Alam

Permintaan gas alam berpotensi naik setelah Jerman akan mengurangi porsi pembangkit listrik batu bara. Hal itu menjadi peluang untuk pembangkit listrik tenaga gas mengambil porsi yang ditinggalkan batubara.
Dika Irawan | 08 Februari 2019 15:03 WIB
Raksasa Gas Dunia. / Tri Utomo - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA -- Permintaan gas alam berpotensi meningkat. Rekomendasi penutupan pembangkit listrik batu bara di Jerman menjadi salah satu pemicunya.

Kelompok industri gas Zukunft Erdgas menyebutkan rekomendasi dari komisi batu bara itu bisa menjadikan gas sebagai pilar kedua pasokan listrik Negeri Industri dunia tersebut.

Asumsi itu muncul karena porsi energi terbarukan di Jerman telah diputuskan mencapai 40%.

Timm Kehler Kepala Zukunft Erdgas mengatakan, kapasitas pembangkit listrik tenaga gas di Jerman memiliki kapasitas 30 gigawatt.

"Ini sinyal komisi batu bara percaya kalau peralihan energi ini bisa ditangani. Sekarang, masalahnya tinggal menciptakan insentif untuk investasi jangka panjang dalam sistem tenaga dan infrastruktur gas," ujarnya.

Pada akhir Januari 2019, komisi batu bara merekomendasikan agar kapasitas pembakaran batu bara di Jerman dikurangi lebih dari setengahnya hingga 2030. Harapannya, Jerman telah menutup semua pembangkit listrik bahan bakar fosil pada 2038.

Zukunft Erdgas mengasumsikan, bakal ada potensi permintaan pembangkit listrik tenaga gas sebesar 30 terawatt hour sampai 81 terawatt hour per tahun pada 2022.

Namun, penyerapan potensi itu tergantung seberapa cepat tenaga gas mengambil bagian dari batu bara yang mulai dikurangi.

Di sisi lain, Industri gas Jerman dianggap gagal membuat terobosan untuk memangkas pangsa batu bara. Pasalnya, harga batu bara terlalu murah.

Adapun, harga listrik yang timbul dari peralihan ke gas diharapkan bisa lebih murah seiring dengan pasokan yang meningkat.

Rusia Memburu Pasar Eropa

Sementara itu, perusahaan gas asal Rusia Gazprom tengah mencari pangsa pasar yang lebih besar di Eropa.

Perusahaan Rusia itu menjual lebih 200 miliar kubik gas alam ke Eropa, termasuk Turki, pada 2018. Pangsa Pasar perusahaan Negeri Beruang Merah naik lebih dari sepertiganya.

Pangsa Pasar Gazprom di Eropa memiliki porsi sebesar 34% pada 2017. Jumlah itu naik menjadi 35% pada 2018.

Adapun, Eropa diprediksi bakal mengalami penurunan produksi gas hingga separuhnya pada 2040.  

Penanggungjawab atas ekspor Elena Burmistrova mengatakan, Gazprom bakal mengimbangi penurunan produksi gas di Uni Eropa, terutama di Groningen, Belanda yang pernah menjadi ladang gas alam terbesar di Eropa.

"Produksi Laut Utara [Eropa] juga secara bertahap turun. Jadi, ruang untuk gas Rusia sedang dibuka," ujarnya.

Namun, Gazprom memiliki tantangan untuk bisa meningkatkan pangsa pasarnya di Benua Biru. Tantangan itu datang dari negara pesaingnya yakni, Amerika Serikat (AS).

Negeri Paman Sam saat ini tengah kelebihan pasokan gas alam. Presiden AS DOnald Trump pun bakal menjual gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) ke Eropa.

Tag : komoditas, gas bumi
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top