INFOGRAFIK, Polemik Tarif Kargo Berujung Damai

Polemik kenaikan tarif kargo udara berujung dengan damai. Usaha saling boikot pun urung terjadi.
Rinaldi M Azka, Rio Sandy Pradana, dan Hendra Wibawa
Rinaldi M Azka, Rio Sandy Pradana, dan Hendra Wibawa - Bisnis.com 11 Februari 2019  |  16:56 WIB
INFOGRAFIK, Polemik Tarif Kargo Berujung Damai
Polemik tarif kargo telah selesai, tidak ada aksi boikot. / Amri Hidayat - Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA -- Polemik kenaikan tarif kargo udara berujung dengan damai. Usaha saling boikot pun urung terjadi.

Tidak ada senyum menghiasi wajah Mohamad Feriadi Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo), raut wajahnya datar tak seperti biasanya.

Pria yang biasanya ramah dengan media dan selalu mau menjawab pertanyaan itu, kini agak berbeda.

Saat disapa awak media pun dia menjawab singkat.

“Tanya Sekjen saya saja,” katanya seusai Pembahasan Kenaikan Tarif Kargo di Jakarta, Jumat (8/2).

Hal yang sama juga disampaikan Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha PT Garuda Indonesia Tbk. Muhammad Iqbal. Dia juga tidak ingin berkomentar banyak terkait dengan hasil rapat tersebut.

“Tanya Corporate Secretary kami saja,” tuturnya sambil menuju mobilnya.

Kedua peristiwa itu memang terjadi setelah pertemuan tertutup antara Asperindo dan maskapai penerbangan yang difasilitasi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terkait dengan kisruh kenaikan tarif kargo udara atau surat muatan udara (SMU).

Pada kesempatan itu, Asperindo menyanggah atas isu yang beredar di media selama ini tentang adanya upaya boikot penggunaan kargo udara oleh perusahaan jasa kurir anggotanya.

Sekretaris Jenderal Asperindo Amir Syarifudin menegaskan, kabar yang beredar mengenai rencana boikot anggotanya terhadap maskapai pada 7-9 Februari 2019 tidak benar karena masih dalam tataran wacana dan belum diputuskan.

Amir juga menegaskan belum ada jasa kurir yang melakukan boikot penggunaan jasa kargo udara tersebut.

“Itu hoaks, jangan percaya yang seperti itu, JNE juga tetap pakai jalur udara, kan customer-nya semua minta serba cepat,” kata Amir.

Selama ini, dia menjelaskan terjadi miskomunikasi antara maskapai penyedia jasa kargo udara dengan pengusaha jasa kurir.

Dia menjelaskan pembahasan mengenai tarif kargo akan diselesaikan secara mandiri antarperusahaan.

“Pemerintah memfasilitasi supaya jangan sampai ada kegaduhan, dan kita sudah sepakat, tidak ada masalah,” jelasnya.

Tak berselang lama, Feriadi yang juga Presiden Direktur PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) menyebarkan keterangan resmi yang menyebutkan ada kesalahpahaman antara Asperindo dan maskapai penyedia kargo udara.

“Bilamana ada kesalahpahaman yang terjadi Asperindo dan pihak maskapai nasional memohon maaf kepada semua pihak dan diyakinkan bahwa hal tersebut tidak akan terulang di masa yang akan datang,” papar Feriadi.

Pernyataan itu mengoreksi apa yang disampaikannya di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Rabu (6/2). Saat itu, Feriadi mengeluhkan tarif kargo yang naik sampai 6 kali sejak Juli 2018 dan kenaikannya mencapai 300%.

Keluhan itu juga disampaikan melalui surat kepada Presiden Joko Widodo, sehingga Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub menggelar pertemuan guna memediasi Asperindo dan para maskapai penerbangan.

Sebelum mediasi berlangsung, sempat beredar screenshot whatsApp dari Direktur Utama Garuda IGN Askhara Danadiputra kepada Muhammad Iqbal per tanggal 7 Februari 2019 mulai pukul 22.00 WIB, tidak melayani pengiriman barang/cargo sementara kepada PT JNE.

Alasannya, beberapa waktu ke belakangan sering melakukan pemberitaan negatif kepada Garuda Indonesia Group sebagai maskapai nasional di media massa, sehingga menimbulkan kisruh secara nasional.

Ari Askhara, sapaan akrab IGN Askhara Danadiputra menyatakan sudah ada pembicaraan yang positif antara Garuda dan JNE. Dia memastikan tidak ada penghentian layanan sebagaimana yang tertulis di dalam surel tersebut.

“Pada intinya, kami tidak mau polemik ini berlarut-larut. Masalah tarif kargo udara sudah clear sejak Jumat pekan lalu,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (10/2).

Solusi Terbaik

Sementara itu, Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Polana B Pramesti juga berharap miskomunikasi dan kesalahpahaman yang terjadi terkait dengan tarif SMU bisa terselesaikan dengan baik.

“Saya mengimbau kepada maskapai dan pengguna jasa kargo agar dapat mencari solusi dan bersepakat terkait tarif,” kata Polana.

Menurutnya, bisnis penerbangan berlangsung cepat dan dinamis, sehingga banyak hal yang harus dijaga agar keberlangsungan tetap terjaga. Salah satu upayanya adalah dengan menjaga suasana tetap kondusif dan saling mendukung.

Terlepas dari polemik Asperindo dan para maskapai, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldi Ilham Masita menuturkan tarif kargo udara pasti akan mengalami kenaikan, sehingga perusahaan jasa pengiriman ekspres memang harus menyesuaikan diri.

“Kargo udara, suka tidak suka, pasti akan naik karena melemahnya rupiah terhadap dolar AS dan biaya operasional maskapai yang naik," ujarnya.

Apalagi kargo udara buat maskapai komersial adalah masukan tambahan, setelah tiket. Saya rasa perusahaan kurir jangan hanya mengandalkan kargo udara dari maskapai komersial karena memang tidak pasti.

Menurutnya, sudah waktunya kebutuhan kargo udara memakai pesawat khusus kargo atau freighter, terutama untuk tujuan kiriman kota-kota besar seperti Surabaya, Makassar dan Medan. Untuk kiriman ke kota lain masih dapat menumpang di maskapai komersial.

Dengan adanya jalan tol Trans-Jawa, dia menegaskan kiriman di dalam pulau Jawa dapat menggunakan jalur darat karena waktu tempuhnya dapat bersaing dengan maskapai penerbangan.

“Biaya SMU yang naik tinggi sudah seharusnya termasuk biaya RA , biaya gudang, porter dan lain-lain tidak terpisah-pisah lagi. Ini usulan dari kami,” ungkapnya.

Terlepas dari berbagai polemik yang muncul atas naiknya ongkos kargo udara tersebut, perusahaan dalam hal ini maskapai dan jasa pengiriman ekspres harus lebih bijaksana dan dewasa dalam menjalankan bisnisnya.

Berbisnis memang untuk mendapatkan keuntungan sesuai prinsip ekonomi, tetapi orientasi yang paling tepat di tengah ketidakpastian ekonomi seperti saat ini adalah keberlanjutan. Semoga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kargo udara, jne

Tag : kargo udara, jne
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top