Menanti Pemburu yang Benar-benar Mendapatkan 'Permata'

Isu investor yang berminat membeli Bank Permata sudah mencuat sejak 2016. Namun, belum ada yang benar-benar merampungkan aksi jual beli emiten berkode BNLI tersebut. Berikut kisah terkininya.
Surya Rianto, Muhammad Khadafi, dan Farodilah Muqoddam
Surya Rianto, Muhammad Khadafi, dan Farodilah Muqoddam - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  10:48 WIB
Menanti Pemburu yang Benar-benar Mendapatkan 'Permata'
Pemburu Permata. - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA -- Harga saham PT Bank Permata Tbk.bergerak fluktuatif seiring isu investor yang tertarik membeli perseroan. Namun, kisah minat investor membeli Bank Permata yang dimulai sejak 2016 ini belum ada yang benar-benar terealisasi.

Teranyar, Bank asal Singapura, yakni Oversea-Chinese Banking Corp.(OCBC) dikabarkan tengah mempertimbangkan rencana pembelian Bank Permata yang salah satu pemiliknya adalah Standard Chartered Plc..

Dikutip dari Bloomberg, OCBC mempertimbangkan untuk menawar 90% saham Bank Permata yang memiliki nilai pasar US$1,9 miliar. Dengan begitu, bank asal Singapura itu tertarik mengambil saham Bank Permata dari dua pengendalinya saat ini, yakni Standard Chartered dan PT Astra International Tbk.

Di sisi lain, OCBC sudah memiliki 85,08% saham PT Bank OCBC NISP Tbk.Jika, OCBC jadi mengakuisisi Bank Permata, bank asal Singapura itu bakal memiliki dua bank yang nilai asetnya mencapai Rp326 triliun, atau terbesar kelima di Indonesia.

Standard Chartered pun sudah mengumumkan kalau  Bank Permata sudah tidak menjadi salah satu investasi intinya. Pasar pun menilai Standard Chartered bersiap menjual saham Bank Permata.

Sebelumnya, Bisnis.com sempat menghitung berapa besar keuntungan Standard Chartered jika menjual Bank Permata.

Direktur PT Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, berdasarkan rumor yang beredar saat itu [Maret 2019], harga jual saham Bank Permata dinilai berada di bawah harga rata-rata akuisisi bank yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Hans pun menilai, Standard Chartered tidak akan mendapatkan untung jika menjual dengan harga 1,5 kali sampai 2 kali dari nilai buku. Soalnya, Standard Chartered sudah menggelontorkan sekitar Rp9 triliun secara bertahap untuk akuisisi maupun setoran modal lewat rights issue.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. menjadi pemburu yang hampir mencaplok Bank Permata. Pada akhir Maret 2019, Bank Mandiri dikabarkan menawar Bank Permata senilai Rp1.115 - Rp1.200 per saham. Kala itu, harga saham Bank Permata tengah bergerak di kisaran Rp900 per saham.

Sayangnya, rencana Bank Mandiri mengakuisisi Bank Permata tidak terealisasi. Kisah itu pun melengkapi beragam kisah para pemburu Bank Permata lainnya yang berakhir menguap tanpa akhir.

Sepanjang tahun ini, harga saham Bank Permata cukup fluktuatif. Secara year to date harga saham BNLI sudah melejit 64% menjadi Rp1.025 per saham. [Sampai perdagangan Senin (19/08/2019)]. Sampai perdagangan Selasa (20/08/2019) pada pukul 10:23 WIB, harga saham Bank Permata turun 1,46% menjadi Rp1.010 per saham.

Kira-kira, siapa yang akhirnya mendapatkan 'Permata' tersebut ya?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank permata, akuisisi

Tag : bank permata, akuisisi
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top