Dari Gojek sampai Traveloka Bisa Paylater, Ini Hitungan Untung-ruginya

Pay later mulai menjadi gaya hidup masyarakat di era digital seiring agresifnya e-Commerce, agen perjalanan daring, dan jasa transportasi daring menawarkan fasilitas \'bayar nanti\' tersebut. Namun, apa sih untung ruginya fasilitas itu? simak ulasannya di sini.
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  15:11 WIB
Dari Gojek sampai Traveloka Bisa Paylater, Ini Hitungan Untung-ruginya
Menimbang-nimbang gunakan pay later. - Ilham mogu

Bisnis.com, JAKARTA - Penetrasi layanan pay later atau metode pembayaran dengan cicilan tanpa jaminan berbasis online kian agresif. Tercatat, sejumlah perusahaan rintisan digital seperti, Gojek, Traveloka, Bukalapak, OVO, Tokopedia, dan Shopee menyediakan fitur ini. Pangajuan akun yang lebih mudah ketimbang kartu kredit menjadi daya tarik sekaligus ancaman terlilit utang kecil yang menjadi bukit. 

Dea, karyawan swasta di Jakarta, mengaku mengandalkan pay later untuk membeli tiket pesawat, menyewa hotel, dan membeli voucher makanan. Sejauh ini, akun pay laternya sudah memiliki limit Rp3,8 juta.

“Aku enggak ngeh sih bunga per bulannya berapa persen,” ujarnya kepada Bisnis pada Selasa (27/08/2019).

Alasannya tertarik menggunakan pay later karena promo diskon khusus yang menggiurkan. Salah satunya, ketika dia membeli tiket pesawat senilai Rp3 juta.

“Dengan menggunakan pay later, aku mendapatkan diskon 40% sehingga cuma bayar Rp1,8 juta. Dari total tagihan, aku dapat biaya sekitar Rp50.000 per bulan,” ujarnya.

Dea pun cenderung memilih tenor jangka pendek untuk menggunakan pay later. “Soalnya, kalau tenornya sampai 6 bulan, diskonnya jadi enggak berasa karena biaya Rp50.000 per bulan tersebut,” ujarnya.

Meskipun begitu, Dea mengakui, keberadaan pay later ada sisi negatifnya, yakni menjadi lebih konsumtif.

“Gara-gara pay later, aku jadi suka tergoda beli sesuatu karena harganya murah. Biasanya, paling gampang tergoda untuk membeli voucher makanan sih,” ujarnya.

Sejauh ini, Dea mengaku transaksi tertinggi yang dilakukan dengan pay later senilai Rp3,2 juta untuk membeli tiket pesawat.

Memudahkan Sekaligus Bikin Boros

Sejatinya, pay later adalah fasilitas pembayaran yang bisa dilakukan belakangan sampai lewat cicilan dengan tenor tertentu tanpa kartu kredit. Jika, diartikan sebagai alternatif kartu kredit, pay later berfungsi untuk mempermudah pembayaran, bukan untuk ngutang dulu.

Indri, pekerja di penyalur dana hibah ini mengaku sudah menggunakan fasilitas pay later selama dua bulan terakhir. Fasilitas itu dinilai memang memudahkan ketika ada kebutuhan mendesak saat tidak ada tabungan.

“Kalau lagi buru-buru, enggak perlu mencari ATM untuk transfer, tapi ya kalau pakai pay later ada bunganya juga sih,” ujarnya.

Saat awal mengajukan pay later, Indri mendapatkan limit awal Rp7 juta. Saat ini, limit pay laternya sudah naik menjadi Rp9 juta.

Sejauh ini, Indri selalu membayar tagihan pay laternya tidak lebih dari sebulan. Total transaksi tertingginya pun senilai Rp600.000. Selama pelunasan tagihan, Indri kerap mendapatkan tambahan biaya sekitar Rp10.000 sampai Rp12.000.

Di tengah kemudahan itu, Indri mengakui fitur pay later itu sangat menggoda untuk lebih konsumtif lagi.

“Kalau enggak ada tabungan, tapi pengen liburan, fitur pay later menggoda untuk digunakan,” ujarnya.

Klub Anti-Ngutang-utang

Sementara itu, tidak semua pihak langsung tergoda menggunakan fasilitas pay later tersebut. Alasannya, prinsip hidup sampai masalah skema penagihan.

Megan, warga Jakarta, mengungkapkan alasan dirinya enggan menggunakan paylater karena tidak sesuai dengan prinsip hidupnya.

“Saya sih no utang-utang club. Ya, memang dasarnya enggak terbiasa dengan ngutang sih,” ujarnya.

Di sisi lain, pengguna pay later lainnya, Brigita, warga Jakarta, menjelaskan keengganannya menggunakan layanan ‘bayar nanti’ itu karena fungsinya sama dengan kartu kredit.

“Ujung-ujungnya, malah bisa menambah utang karena banyak fasilitas yang digunakan,” ujarnya.

Selain itu, Brigita menilai skema jatuh tempo pembayaran pay later membuatnya kurang nyaman. Pasalnya, durasi waktu jatuh tempo terlalu pendek dalam kondisi tertentu.

Misalnya, jatuh tempo 2 Agustus, tetapi baru transaksi 1 Agustus, tetapi jatuh tempo tetap terjadi pada keesokan harinya. Tagihan 1 Agustus itu pun tidak bisa dipindahkan ke masa jatuh tempo 2 September. Padahal, perbedaan transaksinya Cuma satu hari saja.

Lalu, Jane, rekan dari Brigita, justru tidak mau ambil pusing. Penggunaan pay later bukan masalah selama tahu batas penggunaannya.

“Masalah penagihan kurang sopan dan isu kebocoran itu kembali ke individu masing-masing ya. Kalau belum siap, kenapa harus maksa untuk ngutang,” ujarnya.

 Ancaman Terlilit Utang ‘Bayar Nanti’

Kemudahan pendaftaran pay later bisa membuat potensi debitur terlilit utang semakin tinggi. Soalnya, pendaftar pay later biasanya adalah yang gagal lolos pengajuan kartu kredit.

Perencana keuangan Aidil Akbar Madjid menilai, kemudahan mendaftar pay later membuat risiko debitur terlilit utang makin tinggi. Soalnya, fasilitas itu mempermudah transaksi daring tanpa perlu memiliki uang.

Nah, bahayanya kalau ada debitur yang terbuai dengan kemudahan transaksi hingga utangnya menumpuk dan kesulitan melunasinya,” ujarnya kepada Bisnis.com pada Kamis (29/08/2019).

Aidil menyarankan, pengguna pay later agar lebih bijak dalam melakukan transaksi, terutama untuk kegiatan konsumtif. Sebenarnya, fasilitas pinjaman uang lebih cocok untuk digunakan kegiata produktif seperti, membangun bisnis atau membeli properti.

“Kalau fasilitas pinjaman uang untuk kebutuhan konsumtif seperti, beli tiket liburan, makan mewah, dan sebagainya lebih baik dihindari. Boleh beli atau bertransaksi, kalau uangnya memang sudah ada,” sarannya.  

Jadi, Sobat Bisnis termasuk klub pay later atau no utang-utang klub ?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kartu kredit

Tag : kartu kredit
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top