Generasi Ketiga dan Gurita Bisnis Grup Djarum

PB Djarum tengah menjadi obrolan publik seiring dengan pengumuman pamitnya audisi umum beasiswa bulu tangkis Djarum Foundation. Isu rokok menjadi salah satu penyebabnya, tetapi apa saja sih bisnis Grup Djarum selain rokok?
Oliv Grenisia & Surya Rianto
Oliv Grenisia & Surya Rianto - Bisnis.com 10 September 2019  |  15:38 WIB
Generasi Ketiga dan Gurita Bisnis Grup Djarum
Gurita Bisnis dan Generasi Ketiga Grup Djarum. - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA – PB Djarum tengah menjadi bahasan setelah memutuskan untuk tidak melanjutkan audisi umum beasiswa bulu tangkisnya. Status nama klub bulu tangkis yang mirip dengan perusahaan rokok menjadi masalah utamanya. Namun, apa saja sih bisnis Grup Djarum selain rokok?

Dikutip dari situs resmi Djarum, perusahaan itu dirikan oleh Oei Wie Gwan pada 21 April 1951 di Kudus, Jawa Tengah. Peralihan generasi pertama Djarum ke generasi kedua terjadi pada 1963 setelah Oei Wie Gwan meninggal.

Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, anak Oei Wie Gwan, melanjutkan bisnis ayahnya tersebut. Kini, dua bersaudara itu sudah menjadi keluarga terkaya ke-22 di dunia.

Secara individu, dua bersaudara itu juga masuk ke dalam 100 besar keluarga terkaya di dunia. Dikutip dari Bloomberg pada Selasa (10/09/2019), Budi Hartono menjadi orang terkaya ke-81 dunia dengan kekayaan senilai US$15,7 miliar. Secara year to date, kekayaan Budi Hartono naik US$2,06 miliar.

Lalu, Bambang Hartono menjadi orang terkaya ke-91 dengan total kekayaan senilai US$1,87 miliar. Secara year to date, nilai itu sudah naik US$1,87 miliar.

Memasuki generasi kedua, bisnis Grup Djarum pun meluas. Dari riset Bisnis.com, lini usaha bisnis Grup Djarum meliputi industri rokok, perbankan, elektronik, minuman kemasan, perkebunan, pulp dan kertas, properti, dan telekomunikasi. [detail ada di infografik]

Generasi ke-3 Djarum

Bisnis Grup Djarum yang menggurita menjadi tantangan tersendiri untuk generasi ke-3. Apalagi, generasi ke-3 ini juga menghadapi disrupsi digital. Ada tiga sosok yang disoroti untuk generasi ke-3 Grup Djarum antara lain, Victor Rachmat Hartono, Martin Basuki Hartono, dan Armand Wahyudi Hartono.

Victor, putra sulung Budi Hartono, kini sudah menjabat sebagai Direktur Operasi PT Djarum. Lalu, dia juga memegang posisi Presiden Direktur di lini filantropi untuk program tanggung jawab sosial Grup Djarum, yakni Djarum Foundation.

Di sisi lain, Martin memegang bisnis sektor digital lewat perusahaan PT GDP Venture yang fokus mendanai perusahaan rintisan sektor digital.

Dari situs resminya, GDP Ventures mendanai beberapa perusahaan rintisan dari Kaskus, Mindtalk, Blibli.com, Cumi, Garasi.id, Gojek, Infokost.id, Tiket.com, Tinkerlust, Bobotoh.id, Bolalob, Beritagar.id, IDN Media, Dailysocial.id, Endeus, Historia, Kurio, Kumparan, Kicir, Opini.id, Womantalk.com, dan perusahaan rintisan yang menawarkan jasa solusi lainnya.

Teranyar, dikutip dari CB Insight, GDP venture bergabung dengan konsorsium pendanaan seri A SweetEscape, perusahaan rintisan fotografer profesional, senilai US$6 juta pada 2 Juli 2019. GDP Venture mendanai SweetEscape bersama BEENEXT, Burda Principal Investment, Jungle Ventures, Openspace Venture, dan Skystar Capital.

Lalu, sosok ketiga dari generasi ketiga Grup Djarum adalah Armand. Kini, dia menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk., mendampingi bankir senior Jahja Setiaatmadja yang menjadi Presiden Direktur. Armand mulai menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur BCA sejak 21 Juni 2016.

Perusahaan Djarum di BEI

Ada dua perusahaan Grup Djarum yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni Bank Central Asia dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk.

Sampai kuartal II/2019, BCA mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 12,61% menjadi Rp12,86 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu. Sepanjang 2018, BBCA mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 10,85% menjadi Rp25,85 triliun dibandingkan dengan periode 2017.

Selain itu, ada Sarana Menara Nusantara yang bergerak di sektor telekomunikasi. Sepanjang semester I/2019, emiten berkode TOWR itu mencatatkan penurunan laba periode berjalan sebesar 7,97% menjadi  Rp993,51 miliar dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu. Sepanjang 2018, TOWR mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 4,75% menjadi Rp2,2 triliun dibandingkan dengan 2017.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
djarum, budi hartono, michael hartono

Tag : djarum, budi hartono, michael hartono
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top