HaloDoc Melirik Peluang di Sektor Kesehatan

HaloDoc menjadi salah satu startup yang bergerak di sektor kesehatan. Nah, ini perjalanan perusahaan rintisan yang didirikan oleh Jonathan Sudharta.
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai - Bisnis.com 14 Januari 2019  |  16:24 WIB
HaloDoc Melirik Peluang di Sektor Kesehatan
HaloDoc, salah satu perusahaan rintisan yang bergerak di sektor kesehatan. - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA – Sektor kesehatan tidak luput dari perkembangan ekonomi digital. Halodoc menjadi salah satu perusahaan rintisan digital yang mencoba lirik sektor tersebut.

Perusahaan rintisan yang didirikan oleh Jonathan Sudharta ini memberikan layanan kesehatan terpadu. Calon pasien bakal lebih mudah dalam berkonsultasi dengan dokter sampai informasi tentang obat dan dunia medis.

Konsultasi dengan dokter juga bisa dilakukan dengan chat, telepon, dan video call. Selain itu, ada pula fasilitas riwayat percakapan dengan dokter dan daftar pesanan obat yang pernah dibeli. Tak hanya itu, Halodoc juga memberikan fasilitas pengingat waktu minum obat.

Cerita Halodoc bermula dari kegelisahaan Jonathan ketika melihat prosedur akses layanan kesehatan yang tidak efisien.

Kala itu, Jonathan masih bekerja sebagai medical representative yang mempromosikan penggunaan obat ke dokter. Saat itu, dia harus menunggu hingga pukul 01:00 sampai 02:00 dini hari untuk bertemu dokter.

Aktivitas itu membuat Jonathan sering bertemu dan berbincang dengan pasien. Dia sadar kalau jumlah dokter di Indonesia masih sedikit.

Untuk itu, Ketimpangan antara jumlah dokter dengan pasien yang harus diselesaikan. Jonathan telah memiliki beberapa inisiatif terkait sektor kesehatan seperti, LinkDokter yang dibuat untuk menjadi media sosial bagi para dokter.

Kemudian, dia juga membuat Apotik Antar yang berada di bawah Mensa Investama. Apotik Antar ini menjadi platform untuk memudahkan masyarakat dalam memesan obat.

Setelah itu, Jonathan pun meluncurkan HaloDoc pada 21 April 2016. Secara konsep, HaloDoc bisa dibilang perkawinan antara LinkDokter dan Apotik Antar. Kini, situs Apotik Antar sudah langsung dihubungkan dengan HaloDoc.

Halodoc pun mendapatkan pendanaan seri A senilai US$13 juta pada September 2016. Investor yang tergabung dalam pendanaan seri A itu antara lain, Clermont Grup, NSI Ventures, Go-Jek, dan Blibli.

Halodoc pun mendukung layanan Go-Med milik Go-Jek, salah satu investornya pada pendanaan seri A, pada 12 Oktober 2016.

Untuk mendukung pengembangan bisnisnya, Halodoc berkolaborasi dengan tiga perusahaan asuransi seperti, Allianz, Cigna, dan Medicilin pada 2018.

Tidak hanya itu, HaloDoc juga mulai mengoperasikan HaloDoc Goes to Hospital (HG2H) yang memudahkan praktik penebusan obat jadi hemat waktu pada 27 September 2018.

Peluang Startup Bidang Kesehatan

Pasar kesehatan digital global diperkirakan akan mencapai US$536,6 miliar pada akhir 2025 menurut Transparency Market Research (TMR). Nilai tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) diprediksi akan naik 13,4% dibandingkan capaian pada 2016 senilai US$179,6 miliar. 

TMR memprediksi kemajuan teknologi dalam infrastruktur medis dan kesehatan akan semakin mendukung melajunya sektor ini. 

Prediksi yang optimis ini sepertinya juga berlaku bagi Indonesia. Setidaknya, telah bermunculan startup di bidang kesehatan baik dalam bentuk website maupun aplikasi. 

Pada sektor sajian informasi kesehatan berbentuk website, ada beberapa perusahaan rintisan seperti, DokterSehat, KlikDokter, HelloSehat, GO-DOK, Dokter.id, dan TanyaDok.

Lalu, perusahaan rintisan yang menghadirkan aplikasi agar pasien dapat berkonsultasi dengan para dokter antara lain,  HaloDoc, Alodokter, dan YesDok.  

Menurut kamu, apakah kehadiran startup di bidang kesehatan sudah cukup memudahkan masyarakat dalam akses layanan kesehatan?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, rumah sakit, bpjs kesehatan, StartUp

Tag : kesehatan, rumah sakit, bpjs kesehatan, StartUp
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top