Dorong Kinerja Ekspor, Sektor Andalan masih Berkutat dengan Masalah Klasik

Pemerintah telah memetakan 8 sektor andalan untuk mendongkrak ekspor, tetapi semua sektor itu memiliki masalah klasik.
Yustinus Andri DP | 28 Januari 2019 19:40 WIB
8 Sektor Andalan masih Terkendala Masalah Klasik. / Amri Hidayat - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA -- Delapan sektor industri yang dipilih pemerintah untuk memperbaiki kinerja perdagangan nonmigas dinilai belum siap untuk mendongkrak performa ekspor. Beberapa sektor itu masih mengalami masalah klasik yang tidak kunjung dituntaskan pemerintah.

Kementerian Koordinasi bidang Perekonomian memetakan delapan industri andalan untuk mendongkrak ekspor antara lain, otomotif, tekstil, kimia, elektronik, makanan dan minuman, perikanan, permesinan, serta produk kayu.

Namun, kedelapan sektor itu masih menghadapi berbagai masalah klasik seperti, ketersediaan bahan baku di dalam negeri, hambatan perpajakan, rendahnya utilisasi pabrik, serta akses pasar.

Kinerja ekspor dari beberapa sektor seperti, makanan dan minuman, serta permesinan mencatatkan penurunan tipis pada 2018.

Sektor makanan dan minuman mencatatkan penurunan sebesar 6,09% menjadi US$29,91 miliar dibandingkan dengan 2017, sedangkan sektor permesinan turun sebesar 5,38% menjadi US$2,81 miliar.

"Pemerintah perlu identifikasi penyebab koreksi ekspor kedua sektor itu guna melihat potensinya. Selain itu, saya melihat ada beberapa hambatan di beberapa industri seperti, tekstil dan perikanan terkait bahan baku, serta sektor otomotif terkait perpajakan," ujar ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman membenarkan, industri makanan dan minuman sudah siap menjadi tulang punggung ekspor Indonesia.

Sayangnya, pelaku usaha masih dihadapkan persoalan nontarif dan ketersediaan bahan baku.

"Proteksi yang diberikan negara tujuan ekspor makin besar, mulai dari wajib registrasi ulang, perubahan standar keamnan pangan, ketidakpastian permintaan, hingga bea masuk yang tinggi ke kawasan Afrika dan Asia Selatan," ujarnya.

Dari dalam negeri, industri makanan minuman harus menghadapi sumbatan regulasi tumpang tindih, serta ketergantungan bahan baku impor yang tidak kunjung tuntas.

Hal itu membuat biaya makanan dan minuman di dalam negeri menjadi lebih tinggi sehingga produk yang dihasilkan kalah bersaing di pasar global.

Sektor otomotif dinilai memiliki potensi ekspor yang besar. Utilitas pabrik otomotif domestik sudah menyentuh 1,3 juta unit pada 2018 dari total kapasitas 2,2 juta unit.

Sayangnya, jenis produk otomotif yang banyak diproduksi tidak sesuai dengan permintaan pasar global.

"Kendalanya adalah ekspor kita masih berkutat pada segmen multi purposed vehicle (MPV), padahal yang diminati di dunia adalah sedan. Sementara itu, di dalam negeri tidak banyak yang produksi sedan karena permintaan yang rendah. Bagaimana kita mau ekspor kalau industri sedan dalam negeri saja dibebani pajak," ujar Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto.

Permintaan sedan domestik rendah karena dikenakan pajak pertambahan nilai barang mewah. Pangsa pasar sedan di pasar domestik hanya mencapai 1%.

Sektor andalan lainnya juga mengalami kendala serupa. Sektor tekstil mengalami kendala bea masuk 10% terhadap produk polyethylene terephthalate (PET), sedangkan industri perikanan terkendala oleh ketersediaan bahan baku.

Lalu, sektor produk kayu menghadapi kendala ketatnya persyaratan sertifikasi yang memberatkan pengusaha eksportir.

Sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) bagi industri hilir produk kayu dinilai memberatkan. Pasalnya, sertifikasi SVLK itu sudah dilakukan pada produk hulu.

Hal itu menambah beban pengusaha kayu hilir karena biaya pengurusan SVLK cukup besar.

Tag : ekspor
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top