Pengembang Properti Jepang dan Singapura Memburu Pasar Indonesia

Pengembang properti asal Jepang dan Singapura bakal meramaikan pasar Indonesia pada tahun ini. Tahun politik tidak menjadi hadangan untuk tetap ekspansi di sektor tersebut.
Mutiara Nabila | 30 Januari 2019 17:06 WIB
Prospek pengembang properti asing. / Erlangga Adiputra - Yayan Indrayana

Bisnis.com, JAKARTA -- Pengembang properti asing diprediksi bakal tetap ekspansif pada tahun politik. Pengembang asal Jepang dan Singapura diperkirakan bakal banyak masuk ke Indonesia.

Memang, pengembang properti asing sedikit berhati-hati dalam meluncurkan produk pada tahun ini. Mereka akan menunggu waktu yang tepat untuk merilis produk.

Pengembang asing melakukan kajian bersama pengembang lokal untuk menentukan waktu yang tepat itu seperti, beberapa bulan setelah pemilu usai.

Sejauh ini, para pengembang asing masih menilai Indonesia adalah pasar yang bagus. Mayoritas pengembang asing malah makin tertarik pada pembangunan residensial seperti, apartemen dan rumah tapak.

Salah satu proyek pengembang asing adalah Branz di Mega Kuningan, Jakarta. Proyek itu adalah hasil kerja sama antara Tojyu Land Indonesia dengan Japan Overseas Infrastructure Investment Corporation for Transport & Urban Development (JOIN).

Total investasi proyek Branz itu senilai Rp2,5 triliun. JOIN menyuntikkan pendanaan senilai Rp837 miliar pada proyek tersebut.

Nantinya, proyek yang dibangun pada lahan 11.000 meter persegi itu akan terdiri dari kondominium sebanyak 482 unit dan apartemen sewa 240 unit.

Dari sisi konsumen, pengembang asing justru menarik banyak peminat karena kepastian pembangunan proyek lebih terjamin.

Apalagi, pembangunan proyek asing tidak terpengaruh dengan kondisi perekonomian Indonesia atau tahun politik. Asing disebut lebih percaya kondisi perekonomian dan politik Indonesia bakal aman.

"Kami perkirakan jumlah developer asing naik sekitar 10%, semuanya adalah pengembang apartemen," Senior Director Leads Property Services Indonesia Darsono Tan.

Pengembang asing yang bakal mendominasi di Indonesia kedepannya berasal dari Singapura dan Jepang.

Presiden Direktur Tokyu Land Indonesia Keiji Sato mengatakan, pihaknya tertarik masuk pasar Indonesia karena kondisi pasar Jepang sudah melambat.

"Kami akan menyasar negara-negara Asia Tenggara untuk antisipasi kondisi pasar dalam 2 tahun ke depan," ujarnya.

Konsumen Jangan Terbuai Pengembang Asing

Di sisi lain, konsumen juga harus berhati-hati dengan pengembang asing. Pasalnya, tidak semua pengembang asing sukses membangun proyeknya.

Salah satu proyek pengembang asing yang tidak selesai adalah dari apartemen The Noble di Alam Sutera, Tangerang. Proyek yang dikerjakan pengembang asal Hong Kong itu sudah ditutup dan tidak melanjutkan pembangunan.

Vice President Coldwell Banker Dani Indra Bhatara memperkirakan pembangunan tidak dilanjutkan karena respons pasar yang tidak terlalu bagus, permasalahan internal, atau prospek investasi tidak bisa balik modal dengan cepat.

Untuk itu, konsumen diwanti-wanti agar tidak langsung percaya dengan embel-embel asing, tetapi harus lihat asal pengembang, produk yang dijual, dan latar belakangnya.

Adapun, pengembang asing asal China memang diprediksi tidak agresif seperti periode 2015. Pasalnya, kondisi China sedang menghadapi tantangan global sehingga terhambat untuk ekspansi.

Tag : properti, developer
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top