Pembangunan LRT Bandung Raya Dikejar Rampung 2021

Pembangunan LRT Bandung Raya dikejar bisa mulai dieksekusi pada 2019. Harapannya, LRT Bandung Raya bisa rampung selaras dengan kereta cepat. Namun, Pemprov Jabar masih butuh sinkronisasi terkait pembiayaan dengan skema KPBU. Apakah bisa terealisasi sesuai target?
Wisnu Wage Pamungkas | 31 Januari 2019 15:10 WIB
LRT Bandung Raya Penghubung Kereta Cepat./ Husen Parapat - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA -- Pembangunan light rail train atau LRT Bandung Raya harus dikejar karena proyek kereta cepat Jakarta-Bandung rampung pada 2021. Rute penghubung kereta cepat itu bakal memakan biaya Rp4 triliun sampai Rp5 triliun.

Nantinya, pembangunan LRT Bandung Raya itu akan menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan usaha (KPBU). Jadi, pemerintah akan mendanai sebagian proyek itu, sedangkan sisanya akan dibiayai oleh investor.

PT Jabar Moda Transportasi (JMT) menjadi pihak investor dalam pendanaan proyek rute penghubung kereta cepat Jakarta-Bandung tersebut.

Direktur Utama Jabar Moda Transportasi Endi Roswendi mengatakan, pembicaraan mengenai porsi anggaran sudah mulai dimatangkan perwakilan konsorsium bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

"Memang belum disinkronkan dengan kementerian perhubungan, tetapi dalam pembahasan bersama pemprov, untuk rute awal Tegalluar-Leuwipanjang sepanjang 16 km membutuhkan dana Rp4 triliun - Rp5 triliun," ujarnya.

Saat ini, JMT tengah menjajaki pembentukan konsorsium dengan PT Wijaya Karya, PT Jasa Sarana (Induk Badan Usaha Milik Daerah JMT), dan perusahaan swasta asing.

Endi mengatakan, porsi pendanaannya akan disesuaikan dengan kesiapan masing-masing perusahaan.

"Kami akan hitung, berapa yang cocok, bergantung pada yang punya kepentingan apakah BUMD harus besar atau BUMN?" ujarnya.

Di sisi lain, porsi pemerintah akan dirancang dengan dua skema yakni, dana dukungan tunai infrastruktur dan availability payment (AP).

Khusus dengan skema AP, pemerintah bakal menyicil biaya pembangunan infrastruktur sampai dengan perawatannya kepada investor atau konsorsium dalam masa kontrak tertentu.

Lalu, pemerintah juga akan menutupi kekurangan yang dialami konsorsium dalam masa penerimaan.

Sebelumnya, proses LRT Bandung Raya sudah diinisiasi sejak 2014. Kala itu, pembangunan LRT dibahas dalam rapat terpadu yang melibatkan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia, PT Kereta Cepat Indonesia China, JMT, dan dinas terkait.

Sayangnya, konsep bisnisnya tidak lolos dari sisi investasi. Kemudian, ada saran untuk menggunakan pola KPBU dengan kerja sama antara pemerintah dan badan usaha.

Untuk itu, Pemprov Jawa Barat masih harus melakukan sinkronisasi dengan berbagai pihak, terutama pemerintah pusat.

Tender Proyek LRT Dikejar Tahun Ini

Pemprov Jawa Barat menginginkan pembangunan LRT Bandung Raya ini bisa selaras dengan kereta cepat Jakarta-Bandung yang diprediksi selesai 2021. Untuk itu, target tender proyek diharapkan bisa selesai pada tahun ini.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perhubungan Dedi Taufik mengatakan, jika LRT dibangun dari Tegalluar ke Leuwipanjang, tidak akan banyak penumpang yang memakai jasa moda transportasi tersebut.

"Namun, dalam pembangunan rute LRT Bandung Raya, jalur Tegalluar-Leuwipanjang tetap harus dibangun," ujarnya.

Tag : Proyek LRT Bandung
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top