Konsumsi LPG Diprediksi Naik, Ini Upaya Tekan Subsidi Tabung Melon

Konsumsi LPG diprediksi terus meningkat pada tahun ini. Beberapa strategi untuk menekan konsumsi LPG bersubsidi dinilai belum optimal. Lalu, apakah keberadaan LPG 3kg nonsubsidi bisa membuat distribusi tabung melon lebih tepat sasaran?
Dewi Aminatuz Zuhriyah | 04 Februari 2019 19:34 WIB
Konsumsi LPG Diprediksi terus meningkat. - Yayan Indrayana

Bisnis.com, JAKARTA -- Konsumsi liquefied petroleum gas atau LPG diprediksi sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan 2018. Beberapa strategi sudah dilakukan untuk menekan konsumsi LPG subsidi seperti, jargas sampai LPG 3kg nonsubsidi.

Data Wood Mackenzie mencatat konsumsi LPG Indonesia pada 2019 bakal naik 3% menjadi 237.000 barel ekuivalen per hari dibandingkan dengan 2018.

Pemerintah pun telah mengantisipasi perkiraan kenaikan konsumsi itu dengan penambahan dana subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan LPG pada APBN 2019 menjadi Rp100,68 triliun.

Secara keseluruhan, nilai subsidi BBM dan LPG pada masa pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla cenderung lebih rendah dibandingkan dengan rezim Susilo Bambang Yudhoyono. Hal itu disebabkan pada periode 2015-2017 harga minyak berada pada level rendah.

Rata-rata harga minyak mentah Indonesia pada 2014 berada pada level US$96,51 per barel, sedangkan pada 2015 turun menjadi US$49,21 per barel. Harga minyak mentah Indonesia itu kian merosot ke level US$40,13 per barel pada 2016.

Pada 2017, harga minyak baru mulai merangkak naik menjadi US$51,19 per barel. Kenaikan terus berlanjut hingga 2018 yang berada pada kisaran US$68,5 per barel.

Direktur Eksekutif Energi Watch Mamit Setiawan mengatakan, konsumsi LPG bakal terus meningkat karena siapa pun bisa menggunakannya. Lalu, perbedaan harga antara LPG subsidi dengan nonsubsidi juga sangat jauh sehingga banyak yang memilih tabung melon tersebut.

"Pemerintah harus segera membuat peraturan yang efektif sehingga LPG 3 kg hanya bisa digunakan oleh masyarakat yang tidak mampu," ujarnya.

Di sisi lain, pembangunan jaringan gas atau jargas rumah tangga yang bertujuan mengonversi LPG ke gas pipa juga belum optimal.

Si Tabung Pink 3kg Belum Meluas

Sementara itu, penjualan LPG 3 kg nonsubsidi juga belum meluas. Pada 27 Januari 2019, akun Twitter resmi PT Pertamina (Persero) menyebutkan, bright gas 3 kg atau LPG 3 kg nonsubsidi itu masih tahap uji pasar.

Harga tabung awal gas LPG 3 kg berwarna pink itu senilai Rp184.000 sampai Rp187.000, sedangkan harga isi ulangnya berkisar Rp39.000 sampai Rp42.000.

Sejak diluncurkan pada semester II/2018, Bright Gas 3 kg baru dijajakan di Jakarta dan Surabaya.

Apakah Bright Gas 3kg bisa mengurangi beban subsidi LPG 3kg tabung melon di tengah pembangunan jargas masih belum optimal?

Tag : lpg 3 kg, Bright Gas
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top