Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Kopi Tertekan Lonjakan Pasokan, Ini Langkah Produsen Besar

Harga kopi dunia terus merosot mendekati harga terendah pada Oktober 2006. Ada apa gerangan?
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 09 April 2019  |  15:48 WIB
Infografis Bisnis dotcom/Eko

Bisnis.com, JAKARTA -- Harga kopi diprediksi tertekan oleh kenaikan produksi di Brasil. Apalagi, konsumsi kopi di beberapa negara juga mulai melambat.

Merujuk pada laporan bulanan International Coffee Organization (ICO) selama Maret 2019 turun 3,1% menjadi US$97,5 sen per pon. Harga itu mendekati level terendah pada Oktober 2006 senilai US$95,53 sen per pon.

Produksi kopi global diprediksi tumbuh 1,51% menjadi 168,05 juta kantong, sedangkan konsumsi kopi dunia diprediksi sebesar 164,99 juta kantong.

Alhasil, ada surplus sekitar 3,06 juta kantong. Pertumbuhan produksi kopu tertinggi akan terjadi di Amerika Selatan sebesar 4,4% menjadi 80,42 juta ton. Namun, produksi kopi di Amerika Tengah, Meksiko, Asia, dan Oseania diprediksi turun.

Untuk mengantisipasi penurunan harga kopi ini, Brasil berencana menawarkan opsi jual kepada para produsen kopi. Jika disetujui, program ini akan memberikan produsen kopi hak menjual panen kepada pemerintah dengan harga tetap. Harapannya, kebijakan itu bisa membuat harga menjadi lebih stabil.

Para petani kopi di Vietnam pun menimbun hasil panen karena posisi harga terlalu rendah. Mereka baru akan melepas kopinya ketika harga sudah stabil.

Kepala Eksekutif Simexco Daklak Le Tien Hung mengatakan, hal itu membuat para eksportir berjuang ekstra untuk mendapatkan biji-bijian tersebut.

Dalam kondisi ini, mereka akan menghadapi dua pilihan sulit yakni, gagal kontrak dan menghadapi keterlambatan pengiriman.

Chief Executive Officer JSC Trading Coffee Quang Minh Phan Hung Anh mengatakan, jika penjualan yang tersendat oleh petani terus berlanjut, beberapa eksportir cenderung kekurangan pasokan untuk kontrak penjualan. Kendati begitu, pihaknya masih memiliki persediaan yang cukup untuk memenuhi pesanan.

Di sisi lain, analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar masih optimistis harga kopi bakal merekah pada tahun ini.

"Prospek permintaan kopi masih tinggi dan bisa mengimbangi produksi. Ini sinyal ada peluang bullish," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga kopi
Editor : Surya Rianto
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.



Berita Terkini Lainnya

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top