Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ini Strategi Blue Bird Demi Bertahan di Tengah Disrupsi Teknologi

Blue Bird mendapatkan tantangan dari disrupsi teknologi sejak 2014 ketika Grab, Go-jek, dan Uber meramaikan bisnis transportasi umum. Pendapatan taksi Blue Bird langsung susut, tetapi mereka punya upaya untuk menyelamatkan diri dari disrupsi teknologi. Berikut strateginya
Oliv Grenisia
Oliv Grenisia - Bisnis.com 03 Mei 2019  |  14:00 WIB
Kenalan emiten Blue Bird.  -  Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Blue Bird Tbk. membuat kejutan dengan meluncurkan taksi listrik pertama di Indonesia. Apakah langkah ini bisa membantu emiten berkode BIRD itu untuk melawan disrupsi teknologi yang melanda dunia saat ini?

Sebenarnya, kinerja Blue Bird tengah terancam setelah jasa transportasi daring menjamur di Indonesia sekitar 2014 silam. Penawaran tarif yang lebih murah membuat masyarakat beralih dari menggunakan taksi menjadi transportasi daring yang terdiri dari, ojek sampai taksi.

Alhasil, pendapatan perseroan dari taksi terus mengalami penurunan. Pada 2016, penurunan pendapatan taksi perseroan sebesar 15% menjadi Rp4,02 triliun dibandingkan dengan Rp4,76 triliun pada 2015.

Penurunan masih berlanjut pada 2017 sebesar 13,68% menjadi Rp3,47%. Tren penurunan kian tipis menjadi 1,72% atau senilai Rp3,41 triliun pada 2018.

Perlambatan tren penurunan pendapatan taksi itu bisa jadi ditopang oleh kerja sama perseroan dengan Go-Jek. Salah satu perusahaan rintisan jasa transportasi daring.

Selain itu, BIRD juga mengembangkan sistem pembayaran taksinya dengan metode nontunai. Perseroan bekerja sama dengan Tcash, penyedia uang elektronik milik PT Telkomsel yang kini bernama Linkaja.

Genjot Pendapatan di Luar Bisnis Taksi

Sementara itu, industri taksi yang tengah mendapatkan tantangan berat membuat Blue Bird mengembangkan bisnis di luar taksi.

Secara tren kinerja, rata-rata pertumbuhan pendapatan nontaksi perseroan memang belum tembus 10%. Bahkan, pada 2017, pendapatan nontaksinya sempat susut 5,01%.

Kontribusi pendapatan nontaksi dari total pendapatan pun masih sekitar 19%.

Namun, Blue Bird cukup gencar ekspansi untuk pendapatan nontaksi tersebut.

Sepanjang tahun ini saja, perseroan sudah melakukan tiga aksi korporasi untuk mengembangkan bisnis nontaksinya tersebut.

Pertama, perseroan mendirikan PT Trans Antar Nusabird. Perusahaan itu memiliki lini usaha pergudangan, pos, dan kurir.

Kedua, Blue Bird membuat perusahaan patungan bersama Mitsubishi UFJ Lease & Finance dan PT Takari Kokoh Sejahtera yakni, PT Balai Lelang Caready.


Ketiga, perseroan mengakuisisi perusahaan travel Cititrans senilai Rp115 miliar melalui anak usaha barunya PT Trans Antar Nusabird.

Inovasi Taksi Listrik

Fokus mengembangkan bisnis nontaksi bukan berarti perseroan melupakan inovasi bisnis taksinya.

Blue Bird meluncurkan taksi listrik yang mulai beroperasi pada Mei 2019. Untuk Inovasi taksi listrik itu, perseroan menggelontorkan dana senilai Rp40 miliar.

Dana itu digunakan untuk membeli 29 mobil listrik yang terdiri dari, 25 unit BYD e6 A/T, dan 4 unit Tesla Model X 75D A/T. Nantinya, 24 mobil listrik BYD akan digunakan untuk taksi reguler, sedangkan 4 mobil listrik Tesla untuk taksi premium.

Dana itu juga digunakan untuk membangun 12 unit stasiun pengisian listrik (SPL) id kantornya.

Terkait tarif, perseroan memastikan tarif taksi listrik tidak akan berbeda dengan taksi berbahan bakar fosil.

Dengan berbagai manuver Blue Bird itu, apakah Blue Bird bisa menyelamatkan diri di tengah disrupsi teknologi yang terjadi?

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Aksi Korporasi Blue Bird
Editor : Surya Rianto

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.



Berita Terkini Lainnya

Banner E-paper
back to top To top