Mencari Resep Sehat Industri Telekomunikasi

Industri Telekomunikasi mengklaim sudah tidak ada perang harga yang terjadi. Apakah ini sinyal industri itu berada di jalur yang tepat?
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 27 Mei 2019  |  14:29 WIB
Mencari Resep Sehat Industri Telekomunikasi
Kesehatan Telekomunikasi Indonesia. - Amri Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Industri telekomunikasi mengklaim sudah tidak melakukan perang harga lagi. Lalu, apakah ini menjadi sinyal industri itu berada di jalur yang benar?

CEO PT XL Axiata Tbk. Dian Siswarini mengatakan, dari sisi tarif, operatro seluler sudah tidak lagi perang harga.

Para operator sudah berpikir rasional dalam memberi harga layanan data. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah mengenai formula tarif belum dibutuhkan.

Group Head Corporate Communication XL Axiata Tri Wahyuningsih menjelaskan, penurunan imbal hasil dari bisnis layanan data yang terjadi beberapa tahun terakhir disebabkan perilaku pelanggan yang pindah dari 2G dan 3G ke 4G.

Generasi ke-4 membuat pemakaian data oleh pelanggan lebih tinggi dibandingkan dengan pemakaian ketika masih 2G dan 3G.

"Secara keseluruhan tidak menyebabkan rugi karena biaya layanan 4G lebih rendah dibandingkan dengan biaya layanan 2G/3G, meskipun secara yield lebih rendah," ujarnya.

Dugaan operator jual rugi pun tidak dapat dibuktikan karena margin EBITDA [Pendapatan sebelum pajak] tetap tumbuh meskipun ada penurunan yield.

Pemain Terlalu Banyak

Di sisi lain, Direktur Institutional Equity Sales CGS CIMB Securities Kartika Sutandi mengatakan, kesehatan industri telekomunikasi bisa dilihat dari jumlah operator yang ada.

"Perang tarif lahir karena jumlah operator yang beroperasi terlalu banyak sehingga terjadi 'sikut-sikutan' dalam mengakuisisi pelanggan," ujarnya.

Kartika menyebutkan, sejauh ini belum ada operator seluler yang merger sehingga industri belum sehat.

"Harga data di Indonesia lumayan murah, jadi kalau murah berarti margin tidak banyak. Untuk itu, pemainnya jangan banyak-banyak," ujarnya.

Dia pun mendorong pemerintah untuk mengeluarkan kepastian frekuensi bagi perusahaan yang merger atau akuisisi. Menurutnya, itu merupakan cara terampuh untuk menyehatkan industri telekomunikasi.

"Kasih tenggat waktu 2 tahun untuk mereka melakukan akuisisi dan merger. Kalau sudah dikasih waktu dan tidak dilaksanakan, nanti bakal ada operator yang tutup dengan sendirinya," ujarnya.

Tag : telekomunikasi
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top