Hubungan Mesra Investment Bank AS dengan Startup China di Tengah Perang Dagang

Perang dagang AS dengan China ternyata tidak membuat hubungan Investment Bank dengan Startup di dua negara itu bermusuhan. Malah, keduanya sangat romantis untuk menguntungkan satu sama lain.
Surya Rianto
Surya Rianto - Bisnis.com 14 Juni 2019  |  16:39 WIB
Hubungan Mesra Investment Bank AS dengan Startup China di Tengah Perang Dagang
Daftar Startup China yang sudah mendapatkan pinjaman. - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA -- Hubungan Amerika Serikat dengan China boleh memanas akibat perang dagang yang masih belum berakhir, tetapi di dunia perusahaan rintisan atau startup, hubungan Paman Sam dengan Negeri Panda masih sangat erat. Bahkan, Investment Bank di Wall Street sedang merayu agar startup besar China mau melantai di bursa Amerika Serikat tersebut.

Penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) yang dilakukan oleh Uber Inc. sempat diprediksi bisa memicu startup besar lainnya untuk melantai di bursa.

Namun, hasil IPO Uber bisa dibilang cukup mengecewakan setelah hanya mampu menghimpun US$8,1 miliar. Nilai itu masih di bawah target awal yakni, US$10 miliar.

Belum lagi, harga saham Uber langsung anjlok 7,62% menjadi US$41,57 per saham pada hari pertama perdagangan.

Meskipun begitu, Investment Bank asal Amerika Serikat (AS) tidak patah arang untuk mengajak startup raksasa melantai di bursa.

Morgan Stanley dan Goldman Sachs Group mencatat telah memberikan pinjaman senilai US$1,3 miliar kepada Bytedance Ltd., pemilik aplikasi TikTOk, pada April 2019.

Investment Bank itu juga menyiapkan plafon pinjaman untuk dua startup raksasa asal China lainnya yakni, Beike Zhaofang dan Guazi.com. Dari data Bloomberg, Beike Zhaofang bakal mendapatkan pinjaman senilai US$1 miliar, sedangkan Guazi.com akan mendapatkan pinjaman senilai US$400 juta.

Aksi pemberian pinjaman kepada startup raksasa asal China itu disebut langkah awal untuk mengajaknya melantai di Wall Street. Investment Bank AS seolah bertaruh pinjaman itu bisa mengarah ke mandat yang lebih menguntungkan seperti, rencana IPO.

Percaya diri Investment Bank terkait rencana IPO startup raksasa China itu bukan tanpa alasan. Praktek pemberian pinjaman kepada startup lalu berujung dengan IPO sudah sering dilakukan di Negeri Paman Sam.

Uber yang baru IPO pada Mei 2019 menjadi salah satu hasil sukses dari strategi tersebut. Setahun sebelum IPO, startup layanan transportasi daring itu mendapatkan pinjaman senilai US$1,1 miliar dari Morgan Stanley. Lalu, ketika memutuskan IPO, Uber kembali menggunakan jasa Morgan Stanley.

Investment Bank itu pun disebut mendapatkan pendapatan sekitar US$41 juta dari aksi IPO salah satu startup raksasa di dunia tersebut.

Jauh sebelum Uber, kisah Dropbox Inc. juga menjadi cerita sukses strategi pinjaman besar sebelum menawarkan startup untuk melantai di bursa.

Dropbox memutuskan IPO pada 2018 silam. Lalu, setahun sebelumnya, startup bidang komputasi awan itu mendapatkan pinjaman senilai US$600 juta dari Goldman. Ketika Dropbox IPO, Goldman pun menjadi salah satu penjamin emisinya.

Sayangnya, strategi serupa belum tentu mempan dilakukan kepada startup besar asal China. Persoalan perang dagang antara AS-China bisa menjadi alasan utamanya.

Kepala Sindikasi Pinjaman Barclays Plc. Singapura Andrew Ashman mengatakan, pinjaman bank dinilai lebih menarik bagi startup China. Alasannya, pinjaman bank bisa didapatkan dengan cepat dan tidak perlu mengumbar data-data kepada publik seperti melantai di bursa.

"Perusahaan yang masih berumur muda cenderung ingin menghindari terlalu banyak memberikan informasi kepada pesaing," ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg.

Pinjaman bank pun menjadi menarik bagi startup karena memiliki biaya lebih murah di tengah tren suku bunga rendah.

Seperti Bytedance mendapatkan margin bunga 280 basis poin di atas Libor untuk pinjaman April 2019. Lalu, Beike dikabarkan meminta bunga pinjaman sekitar 210 basis poin dari Libor.

Di sisi lain, menghimpun dana di pasar modal lewat IPO disebut tidak semurah kelihatannya.

Penjamin emisi di AS disebut membebankan biaya sekitar 5% sampai 6% dari nilai float untuk penawaran saham perdana. Komisi itu jauh lebih besar ketimbang di Bursa Hong Kong yang mematok biaya sekitar 2% sampai 3%.

Apalagi, kisah Startup yang melantai di bursa tidak selalu indah. Uber dan Lyft mencatatkan perdagangan di bawah harga IPOnya. Lalu, Lucking Coffee Inc., startup asal China penantang Starbucks melaporkan kerugian sekitar US$241 juta pada 2018.

Indeks teknologi MSCI Cina pun telah merosot lebih dari 20% selama setahun terakhir.

Di sisi lain, jika startup raksasa asal China ini enggan IPO, Investment Bank asal AS itu pun tidak rugi-rugi amat.

Analis di Bloomberg Intelligence Hong Kong Vey-Sern Ling mengatakan, bank telah mendapatkan prospek pinjaman yang jauh lebih baik di perusahaan dengan aset yang tidak besar tersebut.

"Jika pesaing Anda [bank] sudah meminjamkan kepada startup bervaluasi miliaran dolar AS itu, Anda pun sudah tidak bisa berada di sana," ujarnya.

Jadi, memberikan pinjaman kepada startup raksasa ini ibarat mematok potensi pendapatan yang besar bagi bank di kemudian hari.

Sumber : Bloomberg

Tag : StartUp
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top