Jatuh Bangun Saham Agung Podomoro di Tengah Pusaran Reklamasi Teluk Jakarta

Harga saham Agung Podomoro Land melejit drastis sejak akhir Mei seiring dengan isu pemberian IMB di lahan reklamasi. Apa hubungannya?
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  16:57 WIB
Jatuh Bangun Saham Agung Podomoro di Tengah Pusaran Reklamasi Teluk Jakarta
agung podomoro reklamasi. - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA -- Harga saham PT Agung Podomoro Land Tbk. melejit hampir 60% dalam sebulan terakhir. Lonjakan harga saham emiten berkode APLN itu bersamaan dengan ramainya isu pemberian izin membangun bangunan atau IMB di lahan reklamasi oleh Gubernur Jakarta Anies Baswedan.

Kelindan APLN dan proyek reklamasi di Teluk Jakarta mulai mencuat ke permukaan saat DKI Jakarta dipimpin Basuki Tjahaja Purnama. Saat itu, Ahok, sapaan akrab Basuki, menerbitkan izin pelaksanaan reklamasi Pulau G pada 23 Desember 2014 kepada PT Muara Wisesa Samudra, anak usaha Agung Podomoro Land.

Mendapat izin reklamasi Pulau G, APLN mengganti direktur utama Trihatma Kusuma Haliman menjadi Ariesman Widjaja pada 21 Mei 2015.

Sayangnya, umur Ariesman sebagai bos APLN tidak bertahan lama. Ariesman terkena operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 1 April 2016.

Ariesman pun didakwa memberikan suap Rp2 miliar kepada Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Muhammad Sanusi secara bertahap.

Uang suap itu diharapkan bisa mempercepat pengesahan rancangan peraturan daerah tentang rencana tata ruang kawasan peraturan daerah Jakarta.

Ariesman juga mengajukan tambahan kontribusi sebesar 15% dari nilai NJOP total lahan yang dimiliki pengembang.

Tertangkapnya Ariesman membuat nasib saham APLN sempat terjungkal. Nasib buruk APLN dalam reklamasi Jakarta makin suram setelah Anies Baswedan, sosok anti reklamasi, menang dalam pilkada ibukota.

Untungnya, isu Anies memberikan IMB di lahan reklamasi mencuat pada 2019. Saham emiten sektor properti itu pun langsung bergairah.

Cerita reklamasi Teluk Jakarta sudah dimulai sejak era Gubernur DKI Jakarta Soejadi SOedirdja pada 1995. Sempat vakum lebih dari satu dekade, isu reklamasi mencuat lagi ketika Fauzi Bowo menjadi Gubernur pada 2012.

Kala itu, Fauzi Bowo menerbitkan peraturan gubernur mengenai penataan ruang kawasan reklamasi pantai utara Jakarta.

Mulai cerahnya status proyek Pulau G milik APLN menjadi sentimen penggerak saham, hingga melesat sampai 25,13% pada perdagangan 19 Juni 2019. Anak perusahaan Agung Podomoro Group (APG) kini dikabarkan tengah melengkapi izin administrasi untuk melanjutkan proyek reklamasi.

Perjalanan perseroang yang memiliki ruang lingkup bisnis dalam bidang real estat ini tercatat dimulai sejak 2004, ketika berdiri dengan nama PT Tiara Metropolitan Jaya pada 30 Juli. Nama perseroan baru berubah menjadi Agung Podomoro Land pada 2 Agustus 2010, setelah para pemegang saham menuntaskan restrukturisasi perusahaan.

Agung Podomoro Group (APG) merupakan perusahaan induk APLN yang didirikan Salimin Prawiro Sumartopada dan Anton Haliman pada tahun 1969. Lalu pada tahun 1986, APG lantas diambil alih oleh Trihatma Kusuma Haliman.

APLN merupan pengembang yang merampungkan sejumlah proyek seperti Podomoro City, Green Bay Pluit, Kuningan City, dan Senayan City.
Perseroan mulai berstatus sebagai perusahaan terbuka pada 11 November 2010. APLN melepas 6,15 miliar lembar saham pada penawaran umum perdana (IPO) dengan harga penawaran Rp365 per saham.

Sampai penutupan perdagangan Selasa (25/06/2019), harga saham APLN turun 4,62% menjadi Rp248 per saham dengan kapitalisasi pasar Rp4,8 triliun dan P/E ratio 27,91 kali.

Sebelumnya, sampai Senin (24/06/2019) harga saham perseroan sempat melejit hingga 59,5% dalam sebulan menjadi Rp260 per saham.

Tag : reklamasi, agung podomoro land
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top