Berharap Pengurangan Produksi Membuat Peternak Ayam Kembali Tersenyum

Merespons anjloknya harga ayam hidup di peternak, pemerintah meluncurkan strategi pengurangan produksi lewat cara mempercepat panen lebih awal. Seberapa besar dampaknya?
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 27 Juni 2019  |  18:34 WIB
Berharap Pengurangan Produksi Membuat Peternak Ayam Kembali Tersenyum
Infografis Bisnis dotcom/Eko

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah akan melakukan pengurangan produksi ayam broiler indukan demi mengendalikan harga ayam yang anjlok di tingkat peternak. Namun, seberapa efektif rencana itu atau malah membuat harga ayam melonjak tinggi?

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I ketut Diarmita mengatakan, pihaknya akan mengurangi produksi ayam broiler indukan yang berumur 68 minggu oleh seluruh pembibit parent stock ayam ras broler selama 26 Juni 2019 hingga 9 Juli 2019.

"Kebijakan itu juga diikuti dengan sebuah pakta integritas antara pemerintah dengan perusahaan pembibit parent stock ayam ras broiler," ujarnya.

Selanjutnya, pemerintah juga membuka peluang untuk mengurangi produksi pada parent stock ayam ras broiler usia di atas 60 minggu jika harga jual peternak masih di bawah acuan.

"Kebijakan pengurangan pasokan akan terus dievaluasi berkala sampai harganya stabil sesuai acuan," ujarnya.

Kebijakan pengurangan produksi pada parent stock ayam ras broiler adalah langkah anyar yang diambil pemerintah demi mengurai permasalahan harga ayam hidup yang rendah.

Dampak Pengurangan Produksi ke Harga Jual

Kebijakan pengurangan produksi parent stock ayam ras broiler terhadap harga jual membutuhkan waktu sekitar 2 bulan untuk memberikan dampak kepada harga jual di peternak.

Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Riyadi mengatakan, efek kebijakan itu terhadap harga baru terasa sekitar 50 hari sejak implementasi.

"Perhitungan 50 hari itu berasal dari proses panen sampai masuk mesin tetas memakan waktu 21 hari. Lalu, 30 hari kemudian baru menjadi daging, kebijakan ini memangkas semua proses itu sehingga produksi berkurang," ujarnya.

Selain itu, Sugeng menilai pengurangan produksi parent stock ayam ras broiler tidak akan berdampak signifikan pada harga anak ayam sehari. Pasalnya, harga bibit ayam yang kelak siap dikonsumsi itu masih akan menyesuaikan permintaan dan penawaran.

Berdasarkan keterangan Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan Sugiono mengungkapkan jumlah parent stock yang diperkirakan akan dipanen dini berada di kisaran 3 juta ekor selama dua pekan kebijakan.

"Pengurangan ini diperkirakan akan mengurangi produksi final stock anak ayam sehari sebanyak 1,5 juta per minggu," terang Sugiono dalam pesan tertulis.

Penyebab Harga Ayam Hidup Anjlok

Harga ayam hidup anjlok akibat pasokan yang berlebih karena kurangnya serapan pasar tradisional.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHNaK) Kementan Fini Murfiani berpendapat hal ini adalah imbas dari pasokan berlebih yang tak diserap selama Idulfitri 2019.

"Peternak memprediksi akan terjadi peningkatan permintaan setelah Idulfitri, terutama ada banyak potensi hajatan dan keiatan lainnya. Namun, prediksi itu tidak jadi kenyataan sehingga pasokan terus melimpah hingga saat ini," tutur Fini dalam keterangan tertulis yang diterima Bisnis, Rabu (26/6/2019).

Selain itu, Fini menyebutkan sebagian besar pelaku usaha ayam ras masih mengandalkan penjualan daging ayam ras di pasar tradisional dalam bentuk hot karkas dan unggas hidup.

"Padahal metode distribusi ini rentan terhadap kelebihan pasokan dan berpotensi dipermainkan pihak tertentu sehingga mengakibatkan disparitas harga yg besar antara produsen dan konsumen," ujarnya.

Tag : harga ayam
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top
Tutup