Transportasi Umum di Jakarta masih Belum Dilirik Masyarakat

Transportasi umum di Jakarta yang kian bervariasi ternyata belum membuat jumlah penggunanya meningkat drastis. Berikut bahasan tentang transportasi umum di Jakarta yang masih kalah menggoda ketimbang kendaraan pribadi.
Puput Ady Sukarno & Fitri Sartina Dewi
Puput Ady Sukarno & Fitri Sartina Dewi - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  15:50 WIB
Transportasi Umum di Jakarta masih Belum Dilirik Masyarakat
Transportasi jabodetabek. - Erlangga Adiputra / Tri Utomo

Bisnis.com, JAKARTA -- Transportasi umum di Jakarta dan sekitarnya masih belum dilirik oleh warganya. Padahal, pemerintah menargetkan jumlah pengguna transportasi umum di Jabodetabek mencapai 60% pada 2029.

Direktur Prasarana Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Edi Nursalam mengatakan, target penggunaan transportasi umum dalam Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ) terbagi dalam empat tahap, yakni pada 2016 sebesar 24%, pada 2019 sebesar 40%, pada 2024 mencapai 50% dan pada 2029 sebesar 60%.

Upaya mengejar target itu pun sudah dilakukan lewat sarana transportasi umum yang lebih bervariasi.

"Jadi, upaya peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum juga tergantung kesadaran masyarakat," ujarnya di sela-sela Forum Group Discussion yang diselenggarakan Dewan Transportasi Kota Jakarta, Senin (12/8/2019).

Sayangnya, hasil penelitian Jabodetabek Urban Transportation Policy Indonesia (JUTPI) II menunjukkan pengguna transportasi umum di Jakarta dan sekitarnya baru tembus 8,8%.

KRL rute Jabodetabek dinilai menjadi transportasi umum yang paling diminati masyarakat. Bahkan, KRL yang lebih dikenal dengan Commuter Line itu dianggap menjadi tulang punggung transportasi umum.

Rata-rata jumlah penumpang KRL Commuter line sebagai transportasi umum terfavorit mencapai 1,1 juta per hari.

Nilai itu jauh lebih besar dibandingkan dengan transportasi umum lainnya seperti, Transjakarta mencapai 773.816 penumpang per hari dan MRT Jakarta 82.0000 penumpang per hari.

Strategi Mencapai Target 60%

Transportasi umum di Jakarta dan sekitarnya pun tidak bisa hanya mengandalkan peningkatan kapasitas pengguna KRL Commuter Line. Apalagi, pengembangan sarana KRL membutuhkan investasi yang besar.

Edi menilai, masalah utamanya adalah keterbatasan anggaran. Untuk mencapai kapasitas itu juga butuh pembangunan, sedangkan membangun itu butuh dana.

"Saat ini, skema pendanaan kerjasama pemerintah badan usaha (KPBU) pun susah juga," ujarnya.

Apalagi, investasi swasta murni lewat KPBU untuk mendorong penggunaan transportasi umum masih belum ada. Mayoritas, investasi terkait transportasi umum masih berasal dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Edi mengakui, dirinya masih belum menyerah untuk mengejar target pengguna transportasi umum sebesar 60%. Beberapa upaya yang dilakukan antara lain, menargetkan penumpang MRT bisa mencapai 80.000 per hari, LRT Jakarta 15.000 per hari, dan Transjakarta bisa tembus 800.000 per hari.

“Belum lagi tambahan dari Transjabodetabek, JRC & JAC, Commuter Line, Jakarta Elevated Loopline, dan Cikarang Bekasi Laut (CBL). Kami juga akan bangun sekitar 11 transit oriented development (TOD),” ujarnya.

Namun, Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta Iskandar Abubakar mengakui, target 60% pengguna transportasi publik di Jabodetabek pada 2029 memang cukup sulit.

BPTJ selaku pihak yang diberi kepercayaan untuk memastikan target tersebut bisa terwujud dianggap memikul beban yang sangat berat. Oleh sebab itu, dia mendorong agar seluruh pihak terkait baik kepala daerah, operator, swasta, maupun masyarakat bisa saling mendukung dan bekerja sama untuk mewujudkan target tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
transportasi, BPTJ-Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top