Dana Pensiun, Demi Hari Tua Tetap Ceria

Dana pensiun kerap disepelekan oleh kaum muda karena merasa masanya masih lama, tetapi demi hari tua yang ceria, dana itu harus mulai dikumpulkan sejak dini. Berikut ulasannya.
Oliv Grenisia
Oliv Grenisia - Bisnis.com 17 Oktober 2019  |  15:09 WIB
Dana Pensiun, Demi Hari Tua Tetap Ceria
Agar Hari Tua Tetap Ceria - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA – Dana pensiun pribadi bisa dikumpulkan lewat investasi jangka panjang secara mandiri maupun produk dana pensiun lembaga keuangan. Nah, seberapa penting sih dana pensiun pribadi untuk para pekerja-pekerja muda saat ini?

Rata-rata umur pensiun di Indonesia berkisar di 55 tahun sampai 60 tahun. Lalu, rata-rata usia awal pekerja sekitar 24 tahun. Artinya, ada waktu sekitar 30 – 35 tahun untuk menabung dana hari tua.

Dengan rentang waktu yang lama itu, dana pensiun bisa dicicil mulai Rp500.000 per bulan sehingga tidak perlu membebani anak cucuk ke depannya alias memotong siklus generasi sandwich.

Karyawan perusahaan rintisan Rizki Fauzi menyadari investasi menjadi sebuah hal yang penting. Dia pun sudah memulai investasi lewat instrumen emas batangan.

“Awalnya, sudah pernah niat mau investasi emas, tetapi tetap saja tergoda untuk melakukan hal-hal yang konsumtif. Namun, sekarang saya sudah komitmen untuk mengumpulkan dana demi hari tua,” ujarnya pada Rabu (16/10/2019).

Rizki memilih emas karena dirinya percaya harga emas tidak tergerus inflasi. Kini, dia sudah menabung emas selama 15 bulan. Setiap bulannya, dia mencicil 1 gram emas.

“Ke depannya, saya juga mau coba instrumen investasi lainnya biar keuntungan bisa lebih terasa,” ujarnya.

Berbeda dengan Rizki, Karyawan Swasta di Jakarta Hilda Irma memilih jasa dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) untuk mengumpulkan dana hari tua.

Hilda menilai dana pensiun memang dikumpulkan dalam jangka panjang sehingga enggak perlu memburu untung besar dalam jangka pendek.

“Jadi enggak perlu dipantengin sering-sering kayak trading saham gitu,” ujarnya.

Sejauh ini, Hilda sudah mengumpulkan dana pensiun lewat DPLK dengan mayoritas penempatan dana di deposito. Selain DPLK, dia juga menempatkan dana masa tuanya itu lewat investasi ke emas batangan langsung.

“Penting banget sih untuk nyimpen dana pensiun ini, sejak cari tahu soal itu, saya jadi merasa enggak aman kalau enggak berinvestasi,” tuturnya.

Pentingnya Persiapan Dana Pensiun Mandiri

Sementara itu, dana pensiun mandiri dinilai cukup penting agar ada tambahan dana untuk hari tua nanti. Pasalnya, perusahaan belum tentu memberikan Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) yang sifatnya tidak wajib.

Praktis, dana pensiun yang diterima hanya berasal dari BPJS Ketenagakerjaan.

Belum lagi, bagi pengusaha yang juga harus mempersiapkan dana pensiun agar hari tuanya bisa tetap bahagia.

Dana pensiun mandiri bisa menjadi pilihan agar tidak membebani generasi selanjutnya sehingga tercipta generasi sandwich.

DPLK atau Investasi Langsung

Ada yang berpendapat menempatkan dana pensiun di DPLK membuat keuntungan yang didapatkan tidak maksimal. Untuk itu, banyak yang memilih jalan menabung dana pensiun sendiri lewat investasi dari saham, obligasi negara ritel, reksa dana, emas, dan sebagainya.

Sebenarnya, baik dana pensiun lewat DPLK atau investasi sendiri memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kelebihan mengumpulkan dana pensiun dengan investasi sendiri adalah instrumen investasi yang dipilih lebih fleksibel. Dengan begitu, keuntungan yang didapatkan bisa saja lebih optimal, tetapi potensi kerugian juga mengintai jika investasi tidak dikelola dengan baik.

Lalu, kekurangan yang paling mendasar dari investasi langsung adalah komitmen untuk konsisten menyisihkan dana setiap bulan demi hari tua.

Nah, kekurangan itu bisa diatasi oleh DPLK yang bisa membuat pesertanya komitmen untuk menempatkan dana secara berkala setiap bulannya. Selain itu, peserta DPLK juga tidak perlu pusing mengurus penempatan dana investasi karena sudah diurus oleh DPLK.

Sayangnya, penempatan dana pensiun di DPLK tidak fleksibel seperti, investasi sendiri. Soalnya, pemilihan penempatan dana investasi sudah ditentukan sejak awal, jika ingin mengubah alokasi investasi pun harus ke cabang terlebih dulu.

Tips Memilih DPLK                                 

Seperti dikutip dari situs OJK, tips memilih DPLK yang paling penting adalah alokasi investasi sesuai dengan kebutuhan dan profil risiko. Jika sumber dana pensiun hanya berasal dari DPLK, disarankan tidak memilih alokasi investasi yang memiliki risiko tinggi.

Selain itu, calon peserta DPLK juga diminta untuk memastikan fleksibilitas penempatan dana pada instrumen investasi. Lalu, jangan lupa juga menanyakan keberlanjutan DPLK jika perusahaan jasa dana pensiun itu ditutup.

Jadi, sudah siap untuk sisihkan uang Anda pada dana pensiun?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dana pensiun, investasi

Tag : dana pensiun, investasi
Editor : Surya Rianto
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top