Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mimpi Mendirikan Startup, Hitung-hitungan Sektor Usaha yang Paling Potensial

Mimpi mendirikan startup menjadi impian banyak anak muda saat ini. Apalagi, merasa memiliki perusahaan sendiri dan bebas mengaturnya ketimbang harus terjerat sebagai budak korporasi. Namun, kira-kira sektor startup apa yang masih potensial saat ini ya?
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai - Bisnis.com 26 November 2019  |  13:46 WIB
Sektor Startup yang masih Sepi Unikorn.  -  Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA – Mimpi mendirikan startup atau perusahaan rintisan menjadi impian banyak anak muda saat ini. Namun, jutaan startup sudah berjejalan di berbagai belahan dunia, apakah artinya pasar startup sudah mulai penuh dan siap menjadi bubble yang akan meletus?

Berdasarkan data The Global Unicorn Club yang dirilis CB Insights per November 2019, terdapat 418 unikorn tersebar di penjuru dunia. Klub unikorn ini didefinisikan sebagai startup dengan valuasi di atas US$1 miliar, termasuk para dekakorn.

Sebanyak 418 unikorn itu terbagi ke dalam 15 sektor usaha. Sektor perangkat lunak & layanan internet, serta teknologi finansial menjadi yang paling dipadati para unikorn.

Toutiao atau yang dikenal secara global sebagai Bytedance menjadi unikorn bervaluasi paling tinggi. Perusahaan yang menaungi platform video pendek TikTok asal China itu memiliki valuasi sebesar US$75 miliar. 

Lalu, Guild Education menjadi startup teranyar yang bergabung dengan klub unikorn dunia pada 13 November 2019.

Indonesia pun mencatat ada 5 startup yang memasuki klub kuda bertanduk itu, yakni Gojek, Tokopedia, OVO, Bukalapak, dan Traveloka. Jumlah unikorn tersebut paling banyak dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya. 

Tidak hanya berhenti sebagai penghias dalam daftar perusahaan rintisan yang bervaluasi di atas US$1 miliar, startup yang digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim juga berhasil masuk dalam tiga besar di sektor rantai pasokan, logistik, & pengiriman.

Sebagai gambaran, Gojek tercatat memiliki valuasi US$10 miliar, disusul Tokopedia US$7 miliar, OVO US$2,9 miliar, Bukalapak US$2,5 miliar, dan Traveloka US$2 miliar.

Sektor Startup yang Paling Sepi

Sektor 'Pendidikan' dan 'Keamanan Siber' berada di urutan paling buncit dalam menyumbang unikorn karena masing-masing hanya menyumbang 12 startup. Di urutan berikutnya ada sektor 'Travel' yang menyumbang 13 unikorn.

Meski begitu, angka tersebut masih lebih banyak dibandingkan dengan jajaran unikorn yang masuk dalam sektor 'Lain-lain'. Walau dalam kategori itu terdapat 28 unikorn, nyatanya perusahaan yang tergabung datang dari beragam sektor. 

Misalnya, ada SpaceX yang berkecimpung di bidang transportasi luang angkasa. Perusahaan yang didirikan oleh Elon Musk pada 6 Mei 2012 itu mulai masuk dalam jajaran unikorn pada 1 Desember 2012. CB Insights mencatat valuasi SpaceX mencapai US$33,3 miliar sehingga menjadikannya sebagai unikorn bervaluasi tertinggi di sektor 'lain-lain'.

Di peringkat kedua diduduki oleh Epic Games. Perusahaan pengembang video games dan perangkat lunak asal AS ini memiliki investor seperti Tencent Holdings, KKR, dan Smash Venutres. Saat ini valuasi Epic Games mencapai US$15 miliar. 

Tiga teratas di sektor 'lainnya' diduduki oleh WeWork. Unicorn yang menggarap sektor co-working space itu sedang ramai menjadi sorotan. Pasalnya, setelah batal melantai di bursa saham pada akhir September 2019, WeWork akan memecat 2.400 karyawannya di seluruh dunia. Ditaksir memiliki valuasi US$8 miliar, WeWork menyatakan telah kehilangan hampir US$3 miliar pada kuartal III 2019.

Prospek Bangun Startup di Indonesia

Lantas bagaimana geliat sektor yang masih sepi dengan perusahaan rintisan berstatus unikorn di kalangan para pegiat startup Tanah Air?

Ternyata ada berbagai perusahaan rintisan di Indonesia yang menggarap bidang pendidikan. Bahkan, sebelum demam startup pecah dalam beberapa tahun terakhir, Zenius Education telah hadir sebagai salah satu perusahaan rintisan yang menggarap sektor edukasi daring di Tanah Air.

Startup yang dirintis oleh Sabda PS dan Medy Suharta ini berdiri pada 7 Juli 2007 memberikan jasa layanan akses pendidikan dalam format video. Setelah mendapatkan sejumlah sokongan keuangan dari penggalaangan dana internal, Zenius dikabarkan meraih pendanaan senilai US$20 juta dari Northstar Group pada pertengahan Oktober 2019.

Kemudian ada Ruangguru yang mulai beroperasi secara penuh pada 21 April 2014. Sekilas konsep yang ditawarkan oleh Ruangguru hampir serupa dengan Zenius yang memberikan bimbingan belajar bagi pelajar secara virtual. 

Perbedaannya, startup yang digagas oleh Adamas Belva dan Iman Usman ini membuat konsep pelajar yang mencari guru les ibarat pembeli yang sedang mencari penjual suatu barang di toko online. Dari sinilah kemudian muncul konsep marketplace yang mempertemukan pelajar dan guru.

Dikutip dari CB Insight, Ruangguru dikabarkan sudah mendulang pendanaan seri C yang nilainya tidak disebutkan pada 26 Juli 2019. Beberapa investor yang terlibat dalam pendanaan seri C itu antara lain, UOB Venture Management dan East Venture yang merupakan investornya pada putaran pendanaan sebelumnya.

Selain itu, ada HarukaEdu yang perlu mendapat perhatian lebih di sektor edtech Tanah Air. Pasalnya, startup ini memilih untuk tidak 'memancing di kolam' yang sama dengan Zenius dan Ruangguru.

Alih-alih membantu pelajar menyelesaikan pekerjaan rumahnya, HarukaEdu memilih untuk menggarap kelas kuliah online bergelar dengan membantu sejumlah universitas di Indonesia. Dengan ide tersebut, Startup yang berdiri sejak 2013 itu telah menerima pendanaan Seri C yang melibatkan SIG, AppWorks, GDP Venture, Gunung Sewu Kencana, dan Samator Education pada 20 November 2019.

Sementara di sektor 'Travel' hanya menyisakan Traveloka dan Tiket.com sebagai dua petarung besar layaknya Gojek dan Grab Indonesia berduel di ranah raide-hailing. Pegipegi yang digadang-gadang dapat memberikan alternatif tidak masuk dalam hitungan lantaran diakuisisi oleh Jet Tech yang terafiliasi dengan Traveloka.

Berbeda dengan sektor 'Pendidikan' dan 'Travel', startup sektor 'Keamanan Siber' di Indonesia masih sepi dari peminat. Kesempatan inilah yang nampaknya dimanfaatkan betul oleh Avnos. Startup siber global asal Inggris itu memutuskan untuk menggeser kantor pusatnya dari Singapura ke Indonesia. 

Keputusan itu dibuat setelah berbagai investor di Indonesia mengucurkan pendanaan Seri A bernilai US$10 juta pada 25 April 2019. Dengan dana yang berhasil dihimpun tersebut, salah satu fokus awal Avnos adalah mengembangkan pusat riset and development di Jakarta.

Setelah mengetahui sekilas tentang sektor unikorn tersepi, sudah muncul ide ingin membuat perusahaan rintisan di bidang apa? 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Premium Content StartUp Unicorn
Editor : Surya Rianto
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.



Berita Terkini Lainnya

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top