CEO Startup Melangkah ke Istana, Menanti Tuah Para Milenial

CEO Startup mulai memadati istana negara, setelah Nadiem Makarim menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan. Kini, CEO Ruangguru dan Amartha ditarik menjadi staff khusus presiden. Kira-kira apa kontribusi yang bisa mereka berikan ya?
Oliv Grenisia
Oliv Grenisia - Bisnis.com 27 November 2019  |  14:20 WIB
CEO Startup Melangkah ke Istana, Menanti Tuah Para Milenial
Dari CEO Startup Jadi Pembantu Presiden. - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA – CEO Startup melangkah ke istana, diawali oleh Nadiem Makarim yang diangkat menjadi menteri. Teranyar, CEO Ruangguru dan Amartha yang didapuk jadi staff khusus Presiden Indonesia Joko Widodo.

Jokowi, sapaan Joko Widodo, mengaku menunjuk generasi muda agar dapat memberikan warna segar di pemerintahan, terkhusus yang berkaitan dengan inovasi, gagasan, dan terobosan baru.

Nah, dari 7 staff khusus yang diperkenalkan Jokowi pada pekan lalu, nama CEO Ruangguru Adamas Belva Syah Devara dan CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra mencuat.

Kedua sosok itu memiliki peran di bidang yang berbeda di dunia startup. Belva di sektor pendidikan, sedangkan Taufan di sektor pembiayaan UMKM.

Jika melihat kisahnya, Belva yang mendirikan Ruangguru bersama Iman Usman ini memang memiliki fokus di bidang pendidikan. Alasannya mendirikan Ruangguru adalah ketika menyadari sulitnya mencari guru privat untuk melakukan tes pendidikan di Amerika Serikat secara daring.

Kesulitan itu justru dijadikan peluang besar untuk membuat platform yang memudahkan pencarian guru yang dibutuhkan hingga lahirnya Ruangguru.

Menurut CB Insght, Ruangguru sudah mendapatkan pendanaan seri C dari UOB Venture Management dan East Venture dengan nilai yang tidak disebutkan. Selaras dengan itu, Ruangguru juga merambah negara Asean, yakni Vietnam pada tahun ini. Di Vietnam, Ruangguru mengubah namanya menjadi Kienguru.

“Saya diharapkan untuk terus berkarya di posisi saya saat ini sebagai direktur utama Ruangguru, tidak tercabut dari akar saya di sektor teknologi,  sehingga dapat memberikan masukan inovasi baru yang relevan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” kata Belva melalui situs resmi Ruangguru.

Selaras dengan Belva, Taufan akan tetap menjabat pada posisinya di startup P2P Lending tersebut.

Di sisi lain, Taufan melahirkan Amartha karena melihat sulitnya para pengusaha mikro di desa untuk mendapatkan pembiayaan pada 2010. Eks konsultan bisnis di IBM Global Business Service itu pun mulai membangun Amartha sebagai lembaga keuangan inklusif konvensional.

Lima tahun berjalan, Amartha pun mengembangkan diri menjadi peer to peer (P2P) lending dan menyalurkan pembiayaan mikro kepada lebih banyak pengusaha lagi.  

Awalnya, Amartha membantu perempuan di desa Ciseeng, Bogor dengan modal awal hanya Rp15 juta. Sembilan tahun kemudian, Amartha sudah memberikan pendanaan sekitar Rp1,63 triliun kepada 345.000 pengusaha mikro.

Teranyar, Amartha baru saja mendapatkan pendanaan seri B dari beberapa investor seperti, LINE Ventures, Bamboo Capital Partners, UOB Venture Management, PT Teladan Utama, dan PT Medco Intidinamika.

Setelah terpilih menjadi staf khusus presiden, Taufan sempat berbagi cuitan melalui akun twitter pribadinya @GarudaPutra. “Memulai-derapkan langkah, curahkan daya, bakti pada negara, antarkan bangsa Indonesia maju,” tulis Taufan disertai foto dirinya  saat pengumuman jajaran stafsus di Istana Merdeka bersama Jokowi.

Kira-kira apa yang bisa diberikan para founder startup dari sektor pendidikan dan keuangan itu setelah menjadi Staff khusus presiden ya?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
StartUp

Tag : StartUp
Editor : Surya Rianto
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top