Kursi Panas Dirut Garuda Indonesia

Dalam periode 2005 hingga 2019, ada lima orang yang duduk di kursi orang nomor satu Garuda Indonesia. Kini kursi panas itu diduduki oleh Irfan Setiaputra.
Ana Noviani
Ana Noviani - Bisnis.com 23 Januari 2020  |  17:12 WIB
Kursi Panas Dirut Garuda Indonesia
Garuda Irfan Setiaputra

Bisnis.com, JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. baru saja berganti manajemen. Kini, maskapai pelat merah itu dipimpin oleh Irfan Setiaputra sebagai Direktur Utama dan Triawan Munaf sebagai Komisaris Utamanya.

Pergantian manajemen emiten bersandi saham GIAA itu kerap menjadi sorotan. Apalagi bos sebelumnya, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, dicopot karena skandal penyelundupan motor Harley Davidson dan sepeda Brompton.

Dalam periode 2005 hingga 2019, ada lima orang yang duduk di kursi orang nomor satu Garuda Indonesia.

Emirsyah Satar, termasuk bos Garuda yang cukup lama menjabat, dari periode 2005—2014. Selanjutnya, Emirsyah digantikan oleh Muhammad Arif Wibowo (2014-2017) dan Pahala N. Mansury (2017-2018).

Butuh waktu selama 48 hari sejak pemberhentian Arie Askhara dkk oleh Menteri BUMN Erick Thohir agar GIAA bisa mendapatkan para pemegang tuas kendali yang baru. Saat itu, Fuad Rizal yang merupakan Direktur Keuangan GIAA didapuk sebagai Plt. Dirut.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dilaksanakan pada Rabu (22/1/2020), menghasilkan sejumlah nama baru yang mengisi jabatan direksi maupun komisaris.

Seusai diumumkan sebagai Dirut Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra menyebut tiga fokus utama yang menjadi program kerjanya, yaitu pertama, memastikan aspek keselamatan tetap berjalan dengan baik karena merupakan kunci dalam bisnis penerbangan komersial.

Kedua, menjaga standar layanan kepada konsumen agar tetap prima. Ketiga, meningkatkan profitabilitas perseroan.

“Saya bukan orang yang berlatar belakang airline, perlu waktu untuk mempelajari. Tiga hal itu yang akan menjadi fokus kami, tentu tanpa mengesampingkan citra positif Garuda,” katanya kepada Bisnis.

Pihaknya akan melakukan diskusi bersama dengan serikat pekerja. Menurutnya, hubungan industrial yang sehat mampu menunjang kinerja perusahaan dalam mengatasi tantangan.

Dari sisi operasional, lulusan Institut Teknologi Bandung ini bersedia menerima masukan terkait dengan rute penerbangan. Dipastikan tidak ada perubahan signifikan dalam waktu dekat sembari menyesuaikan dengan jumlah pesawat.

Kini, tinggal menunggu kelihaian direksi dalam mengoperasikan tuas kendali untuk segera membebaskan Garuda dari turbulensi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bumn, garuda indonesia

Tag : bumn, garuda indonesia
Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top