Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lebarnya Jurang Daya Saing Digital Indonesia

Meski ekonomi digital di Indonesia diakui sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, dengan nilai US$44 miliar pada 2020, tetapi rupanya tak semua daerah di Indonesia memiliki daya saing digital yang sama.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 26 Maret 2021  |  13:59 WIB
Infografik daya saing digital antar wilayah di Indonesia. - Bisnis/Adi Pramono

Bisnis.com, JAKARTA — Pandemi Covid-19 seakan memaksa dunia untuk melek teknologi digital dalam waktu singkat. Kondisi ini membawa perubahan besar di hampir segala aspek kehidupan. 

Mendadak apa yang biasanya dilakukan secara tatap muka kini mengandalkan gawai dan koneksi internet. Jika melihat laporan Digital 2021 Indonesia dari We Are Social dan Hootsuite, semestinya tidak ada masalah terkait jaringan internet ini.

Data tersebut menunjukkan jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 202,6 juta atau 73,7 persen dari total populasi yang sebanyak 274,9 juta jiwa. Sementara itu, koneksi internet secara mobile bahkan menembus 345,3 juta atau 125,6 persen dari total penduduk. 

Laporan Digital Competitiveness Index 2021 dari East Ventures juga menyebutkan adanya akselerasi penggunaan produk digital selama pandemi Covid-19. Dalam rentang 2009-2019, pengguna internet bertambah dari 30 juta menjadi 167 juta. 

Sementara itu, selama Mei-Desember 2020, pertumbuhannya mencapai 25 juta pengguna. Angka ini memperlihatkan bahwa jumlah pengguna baru internet yang biasanya dicapai dalam 3 tahun, bisa diakselerasi dalam 1 tahun saja saat pandemi.

Tidak hanya aktivitas bekerja dan sekolah yang harus dilakukan secara daring, pandemi pun mampu mendorong transformasi dalam hal ekonomi. 

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan pandemi membuat ekonomi dan keuangan digital di Indonesia makin marak. Kondisi ini didukung digitalisasi sistem pembayaran, meningkatnya preferensi dan penerimaan masyarakat terhadap teknologi digital, akselerasi perkembangan teknologi finansial, serta perbankan digital.

"Kami memperkirakan transaksi e-commerce pada 2021, akan meningkat 33,2 persen dari tahun sebelumnya. BI memproyeksi pada 2020, sekitar Rp253 triliun dan tahun ini, Rp337 triliun," paparnya dalam rapat virtual dengan DPR, Selasa (9/2/2021).

Sementara itu, penggunaan uang elektronik diyakini naik 32,3 persen pada 2021, menjadi Rp266 triliun. Pada tahun lalu, nilainya Rp201 triliun.

Kemudian, transaksi digital banking diperkirakan tumbuh 19,1 persen menjadi Rp32.206 triliun pada 2021. Di dalamnya termasuk penggunaan online banking, mobile banking, serta instrumen digital lainnya.

Adapun laporan e-Conomy SEA 2020 dari Google, Temasek, dan Bain & Company menyebutkan ekonomi digital Indonesia tumbuh 11 persen pada 2020, dibandingkan 2019. Hal ini membuat ekonomi digital Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, bersama dengan Vietnam.

Kontribusi ekonomi digital terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan tercatat mencapai US$44 miliar atau sekitar Rp619 triliun. Angkanya diperkirakan meningkat menjadi US$124 miliar pada 2025.

Meski demikian, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Besarnya jumlah pengguna internet dan tingkat koneksi mobile rupanya tak serta merta sejalan dengan meratanya akses di masyarakat maupun daya saing digital antar 34 provinsi di Indonesia.

Digital Competitiveness Index 2021 menunjukkan wilayah-wilayah di Pulau Jawa masih memimpin dari provinsi di luar Pulau Jawa. DKI Jakarta mendapat skor daya saing tertinggi, disusul oleh Jawa Barat dan Jawa Timur.

Provinsi Bali, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur adalah provinsi di luar Pulau Jawa yang berada di daftar 10 besar provinsi berdaya saing digital tertinggi di Indonesia. Meski demikian, skornya masih cukup jauh dari DKI Jakarta. 

Adapun Papua Barat, Kalimantan Barat, Maluku Utara, Sulawesi Barat, dan Papua berturut-turut berada di peringkat 30 hingga 34 dalam daftar tersebut. 

Kecenderungan ini, bahwa wilayah di Pulau Jawa masih mendominasi, tak berubah dari tahun lalu. Namun, skornya menunjukkan perbaikan di provinsi-provinsi tingkat kedua dan ketiga. 

Perbaikan ini didukung oleh berbagai faktor. Antara lain naiknya anggaran rumah tangga untuk Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), makin banyaknya penduduk yang memiliki perlengkapan TIK dan mengakses internet, makin banyak penduduk yang bergantung pada internet dalam bekerja atau berusaha, pembangunan infrastruktur telekomunikasi, serta makin luasnya akses keuangan elektronik.

Laporan tersebut juga menyatakan ada sembilan pilar yang menopang daya saing digital di Indonesia. Kesembilan pilar tersebut adalah Sumber Daya Manusia (SDM), penggunaan TIK, pengeluaran untuk TIK, perekonomian, kewirausahaan dan produktivitas, ketenagakerjaan, infrastruktur, keuangan, serta regulasi dan kapasitas Pemerintah Daerah (Pemda).

Oleh karena itu, pemerataan daya saing digital di Indonesia akan bergantung pada sembilan pilar ini.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

daya saing digital ekonomi digital
Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.



Berita Terkini Lainnya

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top