Lapangan Kerja di Era Bonus Demografi

Ganjar Pranowo-Mahfud MD, pasangan capres dan cawapres nomor urut 3 berupaya mengoptimalkan bonus demografi dengan menciptakan 17 juta lapangan kerja baru.

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia tengah menjalani bonus demografi yang akan mencapai puncaknya pada periode 2025—2040, di mana tingkat kelahiran mengalami penurunan sehingga mengakibatkan persentase penduduk usia 0-14 tahun dan rasio ketergantungan menurun.

Bonus demografi adalah masa di mana penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar dibandingkan dengan usia nonproduktif (65 tahun ke atas) dengan proporsi lebih dari 60% dari total jumlah penduduk Indonesia.

Bonus demografi, sebagai bagian dari tahapan transisi demografi, merupakan peluang bagi suatu negara untuk memajukan pembangunan ekonomi dan sosialnya.

Pasalnya, peningkatan jumlah penduduk usia produktif dapat menjadi modal dan amunisi utama bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial suatu negara.

Apalagi, setiap perubahan 1% pada populasi usia kerja suatu negara diproyeksikan dapat meningkatkan pertumbuhan PDB per kapita sebesar 1,5% dan 0,8% tabungan bagian dari PDB, yang berdampak pada pengurangan jumlah kemiskinan rata-rata sebesar 0,76%.

Bonus demografi ini tentu menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia untuk memanfaatkan dan mengoptimalkan bonus demografi untuk meningkatkan pencapaian tujuan-tujuan pembangunan.

Bonus demografi juga menjadi momentum untuk meraih Indonesia Emas 2045, di mana usia kemerdekaan genap berusia 1 abad.

Tiga pasangan kandidat capres dan cawapres 2024, yakni Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) nomor urut 1, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka nomor urut 2, dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD yang berada di nomor urut 3, sudah mengamini bonus demografi yang dinikmati Indonesia.

Meski demikian, pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD lebih spesifik dalam mengoptimalisasi bonus demografi tersebut dengan menyiapkan 17 juta lapangan kerja baru dengan rincian 2 juta peningkatan tenaga kerja di sektor agrikultur, 8 juta di industri baru hasil industrialisasi dan hilirisasi, dan 7 juta tenaga kerja sektor jasa dan perdagangan.

Penciptaan 17 juta lapangan kerja itu baru segelintir dari 21 program unggulan Gerak Cepat Indonesia Unggul milik pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD yang bernilai Rp2.500 triliun selama 5 tahun ke depan (2024-2029).

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengangguran di Indonesia mencapai 7,86 juta orang per Agustus 2023 atau setara dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) 5,32% dari total angkatan kerja sebanyak 147,71 juta.

Jumlah pengangguran tersebut cenderung menurun dalam tiga tahun terakhir, dari puncak tertinggi di awal pandemi Covid-19 yang mencapai 9,77 pada Agustus 2020.

Pengamat Ketenagakerjaan dari Universitas Gadjah Mada, Tadjudin Nur Effendi, menyebut Indonesia membutuhkan sekitar 2,5 juta hingga 3 juta lapangan kerja baru per tahun untuk menekan angka pengangguran.

Tadjudin menuturkan, Indonesia tengah mengalami bonus demografi di mana proporsi angka tenaga kerja produktif hampir sekitar 70% sehingga dibutuhkan lebih banyak lapangan kerja baru.

Selain itu, berdasarkan perhitungan survei angkatan kerja nasional (Sakernas), setiap tahunnya terdapat sekitar 2 juta - 2,5 juta angkatan kerja muda yang berusaha masuk ke pasar kerja setiap tahunnya. Namun dari angka tersebut, tidak semuanya terserap sehingga angka pengangguran di Indonesia masih cukup tinggi yakni sekitar 5-6%.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Media Digital
Editor : Media Digital
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Infografik Lainnya

Berita Terkini Lainnya

Rekomendasi Kami

Foto

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper