Pasti Kerja, Mengubah Potensi Bencana Jadi Bonus Demografi

Ganjar Pranowo-Mahfud MD, pasangan capres cawapres nomor 3 siap mendorong ekonomi unggul dan berdaya saing, salah satunya melalui program Semua Pasti Kerja.

Bisnis.com, JAKARTA — Bonus demografi, sebagai bagian dari tahapan transisi demografi, merupakan peluang bagi suatu negara untuk memajukan pembangunan ekonomi dan sosialnya.

Indonesia pun KINI tengah menjalani bonus demografi yang akan mencapai puncaknya pada periode 2025—2040. Namun demikian, tanpa persiapan dan strategi yang jelas, bonus demografi justru bisa menjadi bencana demografi.

Untuk itu, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 3, berupaya mengoptimalkan bonus demografi dengan menciptakan 17 juta lapangan kerja baru yang berkualitas.

Arsjad Rasjid, Ketua Tim Pemenangan Nasional Ganjar-Mahfud menjanjikan dalam lima tahun dapat diciptakan 17 juta lapangan kerja. “Ini merupakan angka yang wajib kita dapatkan untuk menghindari Bencana Demografi. Semua pasti kerja.”

Lewat program tersebut, Duet Ganjar-Mahfud menyatakan perang terhadap masalah tenaga kerja dan pengangguran yang masih mendera Indonesia. Setiap warga negara juga harus mendapatkan kesempatan untuk mengakses pekerjaan sesuai kompetensinya.

Bonus demografi adalah kondisi, di mana jumlah penduduk usia produktif atau angkatan kerja berusia 15-64 tahun lebih besar ketimbang usia nonproduktif, 0-14 tahun dan di atas 64 tahun.

Kualitas lapangan kerja menjadi perhatian mengingat sejumlah kondisi saat ini, seperti rasio pekerja informal yang jauh lebih besar ketimbang pekerja formal (83,34 juta orang berbanding 55,29 juta) dan  jumlah pekerja perempuan yang masih di bawah 40% dari total angkatan kerja.

Sebagai catatan, BPS menyebut rata-rata upah buruh laki-laki sebesar Rp3,47 juta, sedangkan rata-rata upah buruh perempuan Rp2,64 juta.

Adapun, rata-rata upah buruh tertinggi berada di lapangan usaha sektor informasi dan komunikasi yaitu Rp5,13 juta, sedangkan terendah berada di kategori jasa lainnya, yaitu sebesar Rp1,87 juta. Terdapat sepuluh dari tujuh belas kategori lapangan pekerjaan dengan rata-rata upah buruh lebih tinggi daripada rata-rata upah buruh nasional.

Sementara itu, rata-rata upah buruh berpendidikan universitas sebesar Rp4,78 juta, sedangkan buruh berpendidikan SD ke bawah Rp2,03 juta.

Secara umum, rata-rata penghasilan para pekerja masih di bawah yang diharapkan untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pada saat bersamaan ada 3,5 juta anak muda masuk ke dunia kerja setiap tahunnya.

BPS menyebut jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan mencapai 324,05 juta orang orang pada 2045. Ini berangkat dari perhitungan pertambahan 54,47 juta orang sejak 2020.

Adapun, pada 2030, jumlah angkatan kerja diproyeksikan mencapai 150 juta orang sampai dengan 160 juta orang. Sementara itu, per Agustus 2023, jumlah angkatan kerja mencapai 147,71 juta, dari total penduduk usia kerja yang mencapai 212,59 juta. Dari jumlah tersebut, penduduk yang bekerja sebanyak 139,85 juta sehingga jumlah pengangguran sebanyak 7,86 juta.

BPS sendiri sudah mewanti-wanti bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara dengan angkatan kerja terbanyak di Asia.

"Namun, pada saat yang sama, angka ketergantungan mengalami peningkatan kerena jumlah penduduk usia tua pun meningkat," tulis BPS dalam laporan bertajuk Proyeksi Penduduk Indonesia 2020-2050 Hasil Sensus Penduduk 2020.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Media Digital
Editor : Media Digital
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Infografik Lainnya

Berita Terkini Lainnya

Rekomendasi Kami

Foto

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper