Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv logo xplore

Mengembalikan Kejayaan Pertanian dan Kelautan Indonesia

Ganjar Pranowo dan Mahfud MD telah menyiapkan sejumlah program untuk menjaga kedaulatan pangan dan bahkan akan mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia
Media Digital
Media Digital - Bisnis.com 09 Januari 2024  |  20:30 WIB
Infografik: Menjaga Kedaulatan Pangan & Kejayaan Nelayan Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA –  Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo dan Mahfud MD telah menyiapkan sejumlah program untuk menjaga kedaulatan pangan dan bahkan akan mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Langkah untuk menjaga kedaulatan pangan nasional tersebut dirasa penting, jika berkaca pada fakta yang terjadi di sektor perberasan nasional. Dalam kurun 5 tahun terakhir, produksi beras nasional cenderung mengalami penurunan. Sebaliknya, konsumsi masyarakat terhadap beras justru terus mengalami kenaikan.

Di sisi lain, dalam setahun terakhir pemerintah pun aktif mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan nasional. Sepanjang tahun lalu 2,53 juta ton beras telah diimpor Indonesia. Sementara itu pada tahun ini, pemerintah berencana mengimpor sebanyak 2 juta ton beras. 

Dalam melaksanakan importasi pangan, sejatinya bukan hal yang mudah. Apalagi, berkaca pada fenomena El Nino dan konflik geopolitik dalam beberapa tahun terakhir yang memunculkan krisis pangan global. Dengan demikian Indonesia tidak boleh lagi bergantung pada impor pangan untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Untuk itu, pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD berkomitmen untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdikari pada bidang pertanian pangan. Salah satunya dengan menggenjot produksi sehingga dapat menyediakan bahan pangan dengan harga terjangkau bagi rakyat.

Ganjar menuturkan, Indonesia sejatinya memiliki potensi untuk menjadi salah satu lumbung pangan di dunia, seperti sejumlah negara tetangga, yakni Vietnam, Thailand, dan India. Terlebih, angka produksi beras di Indonesia yang rata-ratanya saat ini mencapai 5,9 ton per hektare, dapat digenjot menjadi 12 ton per hektare.

"Kalau kita bisa meningkatkan produksi 7 ton saja [per hektare], maka sudah sangat luar biasa. Itu artinya butuh modernisasi, mekanisasi, dan intervensi dari pemerintah," kata Ganjar.

Namun demikian, ambisi tersebut tidak dapat menafikan peran dan kesejahteraan para petani. Untuk itu Ganjar dan Mahfud MD pun berkomiten untuk menyediakan bantuan sarana produksi pertanian kepada para petani sebagai ujung tombak kemandirian pangan, guna meningkatkan hasil pertaniannya. 

Langkah tersebut termasuk memberikan dukungan atas modernisasi pertanian, menyiapkan pupuk, alat dan mesin pertanian selama proses hingga menjadi produk.

Ganjar dan Mahfud melihat selama ini subsidi pupuk dan benih cenderung tidak tepat sasaran. Hal itu membuat biaya produksi pertanian cenderung tinggi. Ke depan, Ganjar dan Mahfud pun berjanji bahwa para petani akan mendapatkan kepastian bibit dan pupuk sesuai kebutuhan. 

Implementasinya adalah melalui program Satu Data Indonesia yang akan mendata petani yang layak mendapatkan subsidi. Nantinya, petani yang berhak akan mendapatkan subsidi pupuk dan bibit secara tunai melalui KTP Sakti. Berdasarkan simulasi dari APBN 2024, akan dianggarkan sebanyak Rp26,68 triliun untuk reformasi subsidi pupuk dan benih tersebut 

Selanjutnya, untuk mewujudkan kepastian pendapatan petani, Ganjar dan Mahfud juga bakal menyediakan alsintan modern guna menggenjot produksi; menyediakan sistem asuransi pertanian untuk mengantisipasi risiko gagal panen dan menugaskan BUMN pangan sebagai offtaker dan price taker.

Khusus untuk penugasan BUMN Pangan, Ganjar dan Mahfud akan mendorong penguatan peran Perum Bulog sebagai stabilisator harga pangan. Dengan demikian sehingga harga bahan pangan di dalam negeri tetap terjangkau.

"Bulog harus dikembalikan pada fungsi awalnya yakni akan membeli produksi langsung dari petani sehingga tidak bisa diliberalisasi, dan bisa menjaga kestabilan harga," ujarnya.

Ganjar dan Mahfud pun memiliki ambisi untuk memodernisasi sektor pertanian dengan melibatkan kelompok masyarakat Milenial dan Gen Z. Targetnya, Ganjar dan Mahfud akan menghadirkan sebanyak 1,32 juta petani muda. 

Ke depan, para petani muda akan difasilitasi oleh Ganjar dan Mahfud untuk mendapatkan pelatihan guna meningkatkan skill dan pengetahuan. Selain itu, kelompok petani muda juga dipastikan akan mendapatkan akses permodalan yang mudah. 

Di samping itu, pasangan Ganjar dan Mahfud MD juga memiliki strategi untuk mendorong diversifikasi pangan nasional. 

Langkah itu diperlukan agar masyarakat Indonesia tidak bergantung atau terfokus pada satu produk pangan saja, seperti beras. Sebagai informasi, 98,3% rumah tangga di Indonesia mengonsumsi beras sebagai bahan pangan pokok. 

Selain itu diversifikasi pangan pokok, juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat dan menjaga kearifan lokal masing-masing daerah dari sektor kuliner. Untuk mewujudkan ambisi tersebut pasangan Ganjar dan Mahfud MD memiliki strategi untuk memperkuat data pertanian dan menghadirkan peta komoditas di Indonesia.

Menurut Ganjar, satu data pertanian Indonesia, termasuk ketersediaan lahan bagi petani, akan semakin mempermudah pengelolaan ketahanan dan kedaulatan pangan.

“Sementara itu, peta komoditas akan membantu mempermudah melihat keberagaman komoditas pangan Indonesia. Ini penting agar Indonesia tidak lagi terfokus dalam satu produksi jenis makanan,” katanya.

Kehadiran peta komoditas pangan juga penting untuk memetakan potensi produk pangan yang dimiliki masing-masing daerah.

“Melalui peta ini, akan terlihat secara jelas produksi pertanian Indonesia. Jika produksi melebihi angka kebutuhan, maka pemerintah bisa mengekspor ke negara-negara lain yang membutuhkan,” ujar Ganjar.

MENGEMBALIKAN KEJAYAAN LAUT

Ganjar dan Mahfud MD juga berambisi untuk mengembalikan kejayaan sektor kelautan nasional. Sebab sebagai negara maritim, jumlah nelayan di Indonesia hanya mencapai 1,3 juta orang. Sebagian besar nelayan bahkan berada di garis kemiskinan. 

Sebagai catatan, 70% nelayan mengandalkan modalnya dari BBM subsidi yang aksesnya sangat terbatas. Selain itu, para nelayan menghadapi tantangan kurangnya kepastian zonasi area tangkap di laut dan manajemen tangkap yang merugikan nelayan. Kondisi itu diperparah oleh jaminan perlindungan yang terbatas.

Untuk mengurai tantangan sektor perikanan bagi para nelayan tersebut, Ganjar dan Mahfud MD akan menggunakan Satu Data Indonesia untuk memetakan kebutuhan BBM subsidi kepada para nelayan. Langkah ini akan dilakukan dengan bekerja sama bersama PT Pertamina (Persero).

Guna menyalurkan BBM subsidi tepat sasaran, Ganjar dan Mahfud akan memanfaatkan KTP Sakti. Sementara itu, Pertamina akan didorong untuk memperbanyak SPBN di sentra-sentra nelayan yang selama ini belum ada. 

Para nelayan juga akan dibantu dengan mempercepat penyaluran bantuan alat tangkap tepat sasaran, sesuai karakter dan keunggulan tiap daerah.

Selain itu para nelayan juga akan didukung untuk memperoleh kesejahteraan melalui asuransi nelayan, termasuk jaminan hari tua untuk 1,2 juta nelayan. Ganjar dan Mahfud juga akan memberikan pelatihan manajemen keuangan bagi para nelayan. Para  nelayan juga akan dipermudah untuk mendapatkan hunian layak melalui program “Rumah Kita”.

Pendapatan para nelayan juga akan dijamin melalui kehadiran BUMN Pangan sebagai offtaker agar harga jual terjaga. Dalam hal kepastian zonasi tangkap, Ganjar dan Mahfud MD akan menghadirkan HP Sakti untuk mengakses perizinan yang mudah, murah, cepat dan tuntas. 

Dalam menjaga harga jual hasil laut, Ganjar dan Mahfud akan menyiapkan program pengadaan 2 cold storage berukuran 10 ton untuk 12.000 desa pesisir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Ganjar Pranowo Ganjar Mahfud mahfud md Pemilu 2024 pangan
Editor : Media Digital


Berita Terkini Lainnya

Banner E-paper
back to top To top