Bisnis.com, JAKARTA— Perayaan Idulfitri tetap menjadi momen bermakna bagi pemudik tahun ini di tengah kondisi ekonomi yang pelik pada awal 2025. Para pemudik pun meninggalkan tanah rantau untuk bertemu keluarga di kampung halaman.
Seperti diketahui, pada awal tahun ini kondisi ekonomi RI dibebani oleh gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berimbas pada gejala pelemahan daya beli. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi tahunan pada Februari 2025, yakni 0,09% dan deflasi bulanan sebesar 0,48%. Tercatat, deflasi tahunan merupakan kali pertama dalam 25 tahun terakhir.
Deflasi menjadi pertanyaan karena terjadi sebelum Ramadan dan Idulfitri, periode saat konsumsi masyarakat meningkat dibandingkan periode lainnya. Terlepas dari itu, pemudik tetap memanfaatkan momen tahunan untuk melanjutkan tradisi pulang kampung untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga.
Dalam proyeksinya, Kementerian Perhubungan menyebut jumlah pemudik kali ini mencapai 146,48 juta atau lebih rendah dari proyeksi periode yang sama tahun 2024, yakni 193,6 juta orang. Kendati demikian, Kementerian Perhubungan tak menyebutkan kemungkinan alasan penurunan jumlah pemudik kali ini.
Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno buka suara perihal kondisi di lapangan. Dia mengakui bahwa jumlah pemudik tahun ini lebih lesu seperti yang terpantau dalam arus transportasi pada H-2 sampai H+2 Idulfitri. Dia pun menilai banyak faktor yang melatarbelakangi keputusan pemudik.
“Mungkin saja karena faktor ekonomi, atau memang mereka ingin lebaran di Jakarta saja, jadi banyak faktor," ujarnya di Warung Garasi Si Doel, Jakarta Selatan, Selasa (1/4/2025).
Berdasarkan catatan Bisnis, jumlah pemudik yang turun ini salah satunya tecermin dari jumlah penumpang bus antarkota antarprovinsi (AKAP) di Jakarta yang tergerus 43,90% secara tahunan pada Senin (31/3/2025).
Merujuk data Dinas Perhubungan Jakarta per 31 Maret 2025, penurunan jumlah penumpang terjadi di enam dari tujuh terminal bus AKAP di Jakarta.
Data mencatat secara keseluruhan terdapat 495 kendaraan dan 1.298 penumpang yang tiba di keseluruhan tujuh terminal AKAP tersebut pada 31 Maret 2025. Jumlah tersebut turun dari periode yang sama tahun 2024, yakni 865 kendaraan dan 3.990 penumpang.
Di sisi lain, dia tetap mendukung kegiatan mudik tahun ini. Pada kegiatan Mudik Gratis, misalnya, dia menyebut terdapat 26.000 unit bus, naik dari realisasi tahun lalu dengan 22.000 unit. Lebih dari itu, dia menyebut penurunan jumlah pemudik memberikan manfaat berupa risiko kecelakaan yang lebih rendah.
Dalam perkembangan lain, jumlah kecelakaan lalu lintas (lalin) dan jumlah korban meninggal selama mudik lebaran 2025 turun masing-masing 31,37% dan 32%. Hal itu diklaim sebagai hasil sinergi yang positif antara Polri dan pemangku kepentingan terkait.
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan penurunanan angka kecelakaan merupakan hasil sinergi yang baik dan kuat antara berbagai pihak terkait, terutama Kepolisian (Korlantas), pemerintah daerah, lintas-kementerian, dan berbagai pemangku kepentingan yang terlibat.
"Kami mencatat penurunan signifikan dalam jumlah kecelakaan dan korban meninggal dunia selama periode arus mudik tahun ini," katanya dalam keterangan resmi, Rabu (2/4/2025).
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Inspektur Jenderal Polisi Agus Suryonugroho mengatakan keberhasilan Operasi Ketupat 2025 terlihat dari data kecelakaan yang turun signifikan. Sejak operasi dimulai pada 23 Maret hingga 2 April 2025, kata Kakorlantas, jumlah kecelakaan turun dari 2.152 kasus menjadi 1.477 kasus, atau turun sebesar 31,37%.
Jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan selama mudik juga berkurang drastis, dari 324 korban pada 2024 menjadi 223 korban pada 2025, yang berarti turun 32%. Kakorlantas menegaskan komitmennya untuk mengamankan arus balik Lebaran 2025. Sejumlah strategi seperti pengalihan arus, sistem satu arah, dan arah berlawanan, telah disiapkan untuk mengurai kepadatan lalu lintas.
Menariknya, meskipun pemerintah memberlakukan kebijakan kerja di mana saja atau work from anywhere (WFA) untuk mencegah penumpukan pemudik pada arus balik, sejumlah kalangan memilih menunda mudik dan balik. Alasannya, bekerja pada momen libur Lebaran menawarkan peluang lebih sehingga lebih baik menunda mudik terlebih dahulu untuk mempertebal pundi-pundi rupiah.
Penjual bubur bernama Abdurrohin (25) memilih menghabiskan waktu pada momen Lebaran untuk mempertebal pendapatan. Pria asal Cianjur, Jawa Barat itu mengaku bisa membukukan pendapatan hingga Rp3 juta dalam sehari saat Idulfitri. Angka itu jauh lebih besar dari pendapatan harian yang biasanya sekitar Rp1 juta sehari.
"Karena kesempatan. Kan orang lain pada tutup, saya jualan karena keuntungan bisa dua kali lipat," kata Abdurrohin.
Sebagai gantinya, dia mengatakan baru akan pulang ke kampung halaman dua pekan usai Lebaran. Maklum, selain cari cuan, dia tetap rindu dengan keluarga besar.
“Habis ini ada rencana pulang, dua minggu lagi," ucapnya.
Sementara itu, Jeni (47), pria yang bekerja sebagai sopir taksi itu memilih tak pulang kampung karena ongkos yang mahal. Waktu di Jakarta pun dihabiskan dengan bekerja.
"Alasannya satu, faktor ekonomi saja," kata Jeni kepada Bisnis saat ditemui di bilangan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Dia mengaku saat hari H Lebaran seperti hari ini, pendapatan yang diraup bisa mencapai Rp1,5 juta dalam sehari. Menurutnya, angka itu jauh lebih besar dibanding hari biasa. Adapun peningkatan pendapatan itu tak lepas dari mobilitas warga saat Lebaran. Selain itu, dia tak berhadapan dengan banyak saingan.
Kendati dia melewatkan Idulfitri dengan keluarga, dia mengaku tetap harus menjalankannya karena besarnya ongkos pulang kampung.
"Sebenarnya sedih juga keluarga di Sumatra jauh.”
Kondisi yang dialami Jeni pun senada dengan pandangan Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan dari LPEM FEB UI Teuku Riefky. Dia mengatakan faktor ekonomi erat kaitannya dengan keputusan masyarakat untuk tak mudik pada tahun ini.
“Daya beli masyarakat secara umum mengalami penurunan lantaran pendapatan yang cenderung menurun,” kata Teuku kepada Bisnis, Rabu (12/3/2025).
Selain itu, tunjangan hari raya (THR) para pegawai pemerintahan menurun. Faktor-faktor inilah yang kemungkinan memengaruhi penurunan jumlah pemudik di tahun ini.
Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan, pada Lebaran 2024, selain THR, masyarakat menikmati berbagai gelontoran bantuan sosial (bansos) ekstra dan dana terkait gelaran Pilpres dan Pileg.
“Makanya jumlah pemudik dan nilai belanja Lebaran 2024 jauh lebih tinggi dari 2023 dan tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Wijayanto kepada Bisnis, Rabu (12/3/2025).
Sayangnya, kondisi yang sama tak bisa terjadi pada tahun ini meskipun pemerintah menerapkan diskon tarif listrik, menggelar hari diskon belanja, diskon tarif tiket pesawat, hingga program mudik gratis.
Menurutnya, daya beli masyarakat saat ini menurun serta tidak adanya kepastian mengenai pekerjaan, merupakan faktor utama penurunan jumlah pemudik dan belanja saat Lebaran.