Defisit Neraca Perdagangan, Problem Migas Harus Segera Dituntaskan

Sektor migas menjadi penyebab neraca perdagangan Indonesia pada 2018 mengalami defisit. Untuk itu, pemerintah dituntut menyelesaikan problem migas ini dan segera mempercepat bauran energi.
David E. Issetiabudi, Dewi A. Zuhriyah, Rinaldi M. Azka | 17 Januari 2019 18:21 WIB
Rerata kenaikan konsumsi BBM di Tanah Air sekitar 4% per tahun. Konsumsi BBM saat ini berada di kisaran 1,6 juta barel per hari. Namun, tren produksi siap jual (lifting) minyak dalam 10 tahun terakhir terus turun, yaitu di kisaran 700.000800.000 barel per hari. Defisit suplai minyak dan BBM domestik terus meningkat sehingga impor terus bertambah. - Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA -- Polemik hulu dan hilir migas harus segera diselesaikan oleh pemerintah. Pasalnya, persoalan sektor migas ini menjadi salah satu faktor penyebab defisit neraca perdagangan pada 2018.

Di sektor hulu, produksi minyak mentah ke depan sulit dinaikkan. Sebaliknya, produksi gas bumi diproyeksikan naik signifikan.

Saat ini ada 45 proposal rencana pengembangan lapangan minyak dan gas bumi yang menanti persetujuan. Jika proposal itu sudah disetujui, cadangan migas Indonesia bisa bertambah 2,8 miliar barel setara minyak yang mayoritas berbentuk gas bumi.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat cadangan minyak saat ini berada pada kisaran 3,3 miliar barel.

Masa depan hulu migas diprediksi bakal bertumpu pada gas bumi.

Untuk itu, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) berpotensi terus naik. SKK Migas menyarankan kepada pemerintah ahar memiliki perencanaan konversi ke gas dan bauran energi lainnya.

"Memang potensinya mengarah ke gas, makanya dalam masalah desain konsumsi BBM ke depan, hendaknya kita antisipasi ke arah gas, pemakai minyak lebih baik ditekan,"  ujar Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto.

Potensi gas bumi itu bisa dimanfaatkan untuk pengembangan industri petrokimia atau jaringan gas rumah tangga. Untuk itu, tantangan pengadaan infrastruktur gas harus menjadi prioritas pemerintah.

Jaringan gas rumah tangga bakal menekan konsumsi LPG. Selama ini, 70% kebutuhan LPG masih diimpor.

Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit senilai US$8,57 miliar sepanjang 2018.  Defisit itu disebabkan oleh defisit migas yang mencapai US$12,4 miliar, sedangkan neraca perdagangan nonmigas masih surplus US$3,8 miliar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit minyak mentah pada 2018 senilai US$4,04 miliar. Nilai itu lebih tinggi ketimbang 2017 yang senilai US$1,7 miliar.

Defisit hasil minyak malah lebih besar lagi  senilai US$15,94 miliar. Nilai itu membengkak dibandingkan dengan 2017 senilai US$12,88 miliar.

Di sisi lain, neraca gas masih surplus senilai US$7,5 miliar lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya US$6,02 miliar. Pelebaran defisit neraca migas disesbabkan kenaikan harga minyak dunia dan depresiasi rupiah sepanjang tahun lalu.

Selain itu, impor migas besar karena Indonesia belum bisa memproses minyak mentah ke hasil minyak. Untuk itu, Indonesia harus memiliki kilang minyak yang memadai untuk proses minyak mentah demi menekan impor.

Tag : Neraca Perdagangan, migas, skk migas
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top