Geliat Unicorn Indonesia Caplok Startup

Perusahaan rintisan unicorn Indonesia bisa dibilang cukup aktif menggaet perusahaan rintisan lain untuk mengembangkan bisnis. Selain Traveloka, Gojek dan Bukalapak juga sudah melakukan akuisisi untuk pengembangan bisnisnya.
Surya Rianto | 19 Desember 2018 08:00 WIB
Startup Unicorn Indonesia cukup ekspansif dalam mencaplok startup lainnya untuk pengembangan bisnis. Siapa yang bakal menjadi decacorn pertama kali?/ Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA -- Kabar Traveloka mengakuisisi Pegipegi, Mytour, dan Travelbook sejak awal tahun ini cukup menggemparkan. Di sisi lain, beberapa startup unicorn Indonesia memang aktif menggaet perusahaan rintisan lainnya untuk pengembangan bisnis.

Selain Traveloka, GO-JEK dan Bukalapak juga telah mengakuisisi perusahaan rintisan lainnya.

GO-JEK memulai aksi akuisisi pada Februari 2016, perusahaan rintisan yang dibangun Nadiem Makarim itu menggaet Pianta, perusahaan rintisan asal India, di sektor layanan kesehatan.

Pianta dipilih GO-JEK untuk mempersiapkan diri masuk ke bisnis layanan kesehatan di Indonesia.

Apalagi, salah satu Unicorn Indonesia itu bergabung dalam konsorsium pendanaan seri A untuk Halodoc senilai US$13 juta pada September 2016.

Kala itu, GO-JEK juga tengah mempersiapkan layanan kesehatan on demand. Perusahaan layanan transportasi online itu pun meluncurkan layanan GO-MED pada Oktober 2016.

Tak berhenti disitu, GO-JEK juga melirik beberapa perusahaan rintisan India lainnya. Pada tahun yang sama, GO-JEK memboyong tiga perusahaan India lainnya yakni, C42 Engineering, Codelgnition, dan Leftshift.

C42 Engineering dan Codelgnition diakuisisi untuk memperkuat sistem teknologi informasi (TI).

Lalu, Leftshift diakuisisi Gojek untuk mengembangkan aplikasi mobile PT Karya Anak Bangsa, entitas GO-JEK, tersebut.

GO-JEK juga melirik perusahaan rintisan lokal untuk diakuisisi salah satunya, MVCommerce dengan produknya PonselPay. Saat itu, GO-JEK disebut pilih Ponselpay karena perusahaan rintisan itu sudah memiliki izin uang elektronik dari Bank Indonesia.

Hal itu berarti bakal mempermudah GO-JEK dalam mengembangkan Go-Pay.

Memasuki 2017, GO-JEK makin agresif. Jasa transportasi online itu mengakuisisi LOKET, perusahaan rintisan yang menjajakan tiket dan acara, pada 8 Agustus 2017.

Dari aksi akuisisi itu, GO-JEK memberikan akses penjualan tiket di GO-TIX kepada LOKET. Hal itu membuat LOKET dapat memperluas jangkauannya.

Pada 2017, GO-JEK memberikan kejutan lewat pengumuman akuisisi 3 fintech yakni, Midtrans, Kartuku, dan Mapan. Aksi itu sempat terhambat karena harus mendapatkan izin Bank Indonesia (BI).

GO-JEK disebut langsung proses perizinan aksi korporasi tersebut.

Bukalapak Akuisisi Prelo

Sementara itu,Bukalapak, salah satu unicorn Indonesia, juga sempat melakukan aksi akuisisi pada tahun ini. Bisnis.com mencatat, Bukalapak mengakuisisi perusahaan rintisan penjual barang bekas lewat daring, Prelo.

Kesepakatan akuisisi itu terkait perekrutan sumber daya manusia atau acquihire. Tujuannya untuk menambah barisan talenta perusahaan rintisan yang dibesut Achmad Zaky.

Skema acquihire itu berarti pihak yang mengakuisisi sepakat untuk mempertahankan komposisi inti tim dari perusahaan yang dicaplok.

Pendiri Prelo Fransiska Hadiwidjana diberikan tugas sebagai Head of Business Bukalapak.

Bukalapak pun berencana untuk membangun pusat riset dan pengembangan yang berada di Bandung.

Entah berhubungan atau tidak, Prelo, perusahaan yang baru di acquihire itu juga berpusat di Kota Kembang.

Melihat geliat aksi akuisisi untuk pengembangan bisnis ini, kira-kira siapa yang lebih dulu menjadi decacorn ya? 

Tag : StartUp, bukalapak, Gojek, Traveloka
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top