Bisnis Daring dan Konvensional, Pilih Kompetisi atau Kolaborasi?

Keberadaan ritel online tidak sekedar menjadi tantangan untuk ritel konvensional, tetapi juga bisa menjadi peluang. Bahkan, jika memanfaatkan saluran online dan offline, bukan tidak mungkin kinerja ritel konvensional kian mentereng.
Haffiyan & Fitri Sartina Dewi | 06 Februari 2019 16:58 WIB
Ritel konvensional punya peluang kolaborasi. - Husin Parapat

Bisnis.com, JAKARTA -- Perkembangan teknologi dalam jaringan atau internet telah mengubah perilaku masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini menjadi tantangan bagi pebisnis riil, tetapi bisa juga peluang untuk memasuki pasar yang baru.

Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta pada 2017. Jumlah itu meningkat 62,62% dibandingkan dengan 88,1 juta pada 2014.

Dari data itu, pemanfaatan internet di bidang ekonomi ternyata paling banyak digunakan untuk mencari harga barang. Selanjutnya, di peringkat ketiga dan keempat terbesar, internet dimanfaatkan sebagai sarana mencari informasi pembelian barang dan berbelanja.

Tak pelak situasi ini menambah persaingan bagi bisnis konvensional, seperti ritel. Usaha pertokoan mendapatkan kompetitor baru dari perdagangan secara online.

Berdasarkan survei penjualan eceran dari Bank Indonesia (BI), pertumbuhan penjualan bulanan pada 2016 masih mencapai double digit dalam 10 bulan. Namun, pada 2017 dan 2018, kenaikan pemasaran selalu di bawah 9%.

Dengan penjualan bulanan yang terus menurun, sejumlah pelaku usaha ritel konvensional pun melakukan penetrasi ke pasar daring. Ekspansi itu dilakukan dengan membuat situs web sendiri atau bekerja sama dengan platform yang sudah ada.

Dewan Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Belanja (APPBI) Handaka Santosa menyampaikan, perkembangan tren bisnis membuat pengusaha ritel turut membuka distribusi pemasaran melalui online. Artinya, mereka memanfaatkan sekaligus memaksimalkan jalur-jalur yang sudah eksis.

Pria yang menjabat sebagai Direktur PT Mitra Asiperkasa Tbk. (MAPI) dan Presiden Direktur Sogo Indonesia ini mencontohkan, MAPI sudah merambah bisnis omni channel dengan meluncurkan mapemall.com pada Februari 2016. Selain itu, perseroan juga menjual produknya melalui blibli.com.

“Sebentar lagi Sogo juga masuk ke blibli.com, dan juga melihat peluang platform lainnya. Pokoknya pakai semua saluran. Jangan takut, semua peluang yang ada dimasuki, karena kami tidak eksklusif jualan di satu platform,” tuturnya.

Dia mengakui, kontribusi penjualan dari saluran online belum melebihi 1% dari total penjualan MAPI. Namun, langkah ini tetap harus dilakukan untuk mengikuti tren kebutuhan dan gaya hidup konsumen.

Pada tahun lalu, penjualan Sogo mencapai Rp3,9 triliun, dan diperkirakan tumbuh 15% pada 2019. Grup MAPI juga diestimasi mengalami pertumbuhan penjualan 15% pada tahun ini, setelah dalam beberapa tahun terakhir sukses mempertahankan kenaikan pendapatan double digit.

Pada tahun ini, MAPI berencana menambah sebanyak 200 toko dengan kombinasi luas sekitar 60.000 m2. Hingga akhir 2018, perseroan telah mengoperasikan sebanyak 2.094 toko.

Handaka menambahkan, penjualan ritel fisik akan tetap meningkat seiring dengan peningkatan daya beli masyarakat. Selain itu, pengalaman pelanggan (customer experience) di toko-toko fisik masih menjadi pertimbangan penting bagi konsumen. Pengalaman ini tidak bisa didapatkan melalui online.

“Masyarakat Indonesia masih mengedepankan customer experience. Mereka belanja juga sambil jalan-jalan, sarana hiburan bersama keluarga. Jadi bisnis offline masih menjanjikan ke depannya,” imbuhnya.

Customer & Public Relations Manager Kawan Lama Retail Prita Wardhani menuturkan, dunia digital terus mengalami perkembangan. Oleh karena itu, perusahaan melebarkan penetrasi pasar dengan membuat ruparupa.com dan informa.co.id.

“Dari sisi permintaan pasar online selalu naik, dan orang terbiasa dengan gadget. Jadi peluang pasarnya memang menjanjikan,” ujarnya.

Selain penetrasi online, Grup Kawan Lama yang menaungi PT Ace Hardware Tbk. (ACES) pun memiliki tiga strategi untuk terus mengembangkan gerai ritelnya. Pertama, menambah toko untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

ACES sudah memiliki 177 toko yang tersebar di 41 kota, dan pada 2019 berencana menambah 20 gerai baru. Oleh karena itu, pada tahun ini perseroan menyiapkan belanja modal senilai Rp400 miliar.

Kedua, melakukan diversifikasi dan pengembangan produk sehingga konsumen memiliki pilihan yang kian luas. Sebelumnya, ACES terkenal sebagai gerai penyedia perkakas. Namun, pelan-pelan perusahaan kemudian menyediakan peralatan otomotif, travelling, dan berbagai kebutuhan gaya hidup lainnya.

Ketiga, memberikan promo tematik setiap bulan kepada pelanggan. Diharapkan berbagai taktik tersebut mampu mendorong pertumbuhan kinerja perseroan. Per September 2018, ACES mencatatkan pendapatan Rp5,16 triliun, tumbuh 22,2% yoy dari sebelumnya Rp4,18 triliun.

PELUANG KOLABORASI

VP of Growth Blibli.com Tatum Ona Kembara menuturkan, perkembangan ritel online sifatnya melengkapi gerai offline untuk meraih pasar yang lebih luas. Oleh karena itu, penyedia jasa platform memberikan peluang kolaborasi, alih-alih kompetisi.

“Ritel offline dan online bukan kompetisi, karena offline bisa masuk ke online, dan begitupun sebaliknya. Tidak dipungkiri, masih ada human touch, offline experiment yang diinginkan konsumen,” paparnya.

Sebagai platform yang mengusung konsep online mall, lanjutnya, blibli.com sudah bekerja sama dengan 56.000 penjual. Jumlah itu akan terus bertambah setiap tahunnya.

Sejumlah merek ternama yang sudah bekerja sama di antaranya Unilever, Nestle, P&G, dan Nike. Selain pemain besar, platform yang dimiliki Group Djarum ini juga menggaet pengusaha skala UMKM.

Ketua Umum Asosiasi E- Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung menyampaikan, ke depannya Indonesia akan mengarah ke ekonomi digital mengikuti perkembangan tren global.

Saat ini, perusahaan-perusahaan terbesar di dunia bergerak di industri ekonomi digital, seperti Amazon, Facebook, Microsoft, Apple, dan Google. “Peritel banyak yang mulai merambah ke online karena mereka sadar ke depan arahnya ke bisnis online,” imbuhnya.

Namun demikian, menurutnya bisnis berbasis gerai fisik akan terus ada, bahkan sifatnya saling mendukung dengan bisnis online. Dalam industri makanan misalnya, dengan penetrasi jasa pesanan secara online, perkembangan warung atau restoran pun kian besar.

Pada awal 2019, Kementerian Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan No.210/2018 tentang Perlakuan Perpajakan atas Transaksi Perdagangan melalui Sistem Elektronik. Aturan itu akan berlaku efektif pada 1 April 2019.

Pokok pengaturan dalam beleid tersebut ialah kewajiban memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dari pemilik e-commerce hingga pedagang online yang memanfaatkan marketplace.

Tag : ritel
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top