INFOGRAFIK, Menakar Peluang Investasi Industri Baja

Kapasitas produksi baja Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhan domestik. Di sisi lain, permintaan baja masih akan terus tumbuh sehingga dibutuhkan investasi baru agar kapasitas produk bisa meningkat. Namun, ada beberapa tantangan untuk menggenjot investasi di sektor baja, apa saja?
Annisa Sulistyo Rini | 14 Februari 2019 17:14 WIB
Industri baja butuh investasi yang besar. / Erlangga Adiputra - Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA -- Kebutuhan baja dalam negeri yang diproyeksikan tumbuh hingga 7% per tahun membuka peluang investasi baru di sektor tersebut.

Berdasarkan data The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA), konsumsi baja pada 217 mencapai 13,6 juta ton, sedangkan kapasitas produksi cuma 7,87 juta ton.

Kebutuhan baja Indonesia diprediksi bisa meningkat hingga 23 juta ton pada 2025. Untuk itu, investasi perlu ditambah pada sektor industri baja, terutama hulu atau iron making, yang mengubah bijih besi menjadi iron.

Kapasitas produksi saat ini dinilai masih rendah untuk memenuhi kebutuhan hulu dan hilir industri baja.

Head of Raw Material & Steel Process Technology IISIA Koesnohadi mengatakan, investasi sektor iron making membutuhkan dana yang tinggi. Namun, margin yang dihasilkan tidak terlalu besar.

"Pabrik baja juga harus dibangun di dekat pelabuhan agar bisa disandari kapal dengan kapasitas besar seperti, kapal Panamax, untuk menekan biaya logistik," ujarnya.

Tantangan Industri Baja

Di sisi lain, industri baja diprediksi menghadapi tantangan yang cukup besar ke depannya.

Koesnohadi mengatakan, tantangan multidimensi itu berupa disrupsi yang bisa mengurangi penggunaan produk baja ke depannya. Pasalnya, ada produk pengganti baja, digitalisasi teknologi, dan perubahan gaya hidup.

Penggunaan produk baja pun sudah mulai beralih ke produk lain. Salah satunya, pipa baja yang diganti dengan pipa polivinil klorida (PVC).

Lalu, bahan baku baja pada komponen otomotif juga beralih ke aluminium.

"Cepat atau lambat akan terjadi, sekarang sudah ada kecenderungan orang tidak harus memiliki mobil. Masyarakat bisa memilih transportasi online, ini memengaruhi permintaan otomotif," ujarnya.

Meskipun begitu, produk baja dinilai tetap tidak tergantikan. Pasalnya, baja material yang mudah di daur ulang ketimbang plastik.

Tag : industri baja
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top