Berebut Gurihnya Pasar Minyak Nabati Global

Pasar minyak nabati sangat besar karena fungsinya yang banyak dari pangan, kecantikan, sampai energi. Nah, bagaimana antar produsen minyak nabati bersaing memperebutkan pangsa pasar?
Ahmad Rifai | 29 Maret 2019 18:15 WIB
persaingan panas berebut minyak nabati. - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA – Minyak nabati memiliki manfaat yang cukup banyak dari pangan, kecantikan, sampai energi. Komposisi pembentuk minyak nabati pun cukup banyak dan tersebar di seluruh dunia dalam jenis yang berbeda. Nah, bagaimana antar produsen minyak nabati itu bersaing?

Bahan baku minyak nabati yang utama adalah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). Selain itu, ada beberapa jenis bahan baku minyak nabati lainnya seperti, kedelai, rapeseed, bunga matahari, sampai minyak kelapa.

Namun, CPO sebagai bahan baku minyak nabati yang terbesar mendapatkan perlawanan dari Uni Eropa. Benua biru itu menganggap komoditas sawit tidak ramah lingkungan.

Alhasil, Uni Eropa memutuskan penghapusan penggunaan minyak sawit untuk biodiesel bahan bakar transportasi pada 14 Maret 2019. Dampaknya, harga CPO secara harian langsung anjlok 1,33% menjadi 2.063 ringgit per ton.

Uni Eropa memiliki kriteria tanaman yang dapat merusak lingkungan dalam Undang-undangnya yang baru. Tujuannya, mereka ingin meningkatkan porsi energi terbarukan menjadi 32% pada 2030 dan menentukan sumber terbarukan yang paling sesuai.

Kelompok Benua Biru itu pun menganggap biodiesel berbahaya sehingga diputuskan untuk dihapus secara bertahap mulai 2019 hingga 2023. Nantinya, biodiesel tidak akan digunakan lagi pada 2030.

Hal ini memicu kontroversi setelah Komisi Eropa mengambil kesimpulan bahwa 45% dari ekspansi produksi minyak sawit sejak 2008 menyebabkan kerusakan hutan dan jumlah signifikan gas rumah kaca yang dihasilkan. Bahkan, kerusakan hutan oleh sawit dinilai lebih parah dibandingkan dengan kedelai, bunga matahari, dan rapeseed.

Batas pemisah produksi agrikultur yang masuk kategori berbahaya dan tidak ditetapkan hanya pada angka 10%. Jelas saja, usulan awal Komisi Eropa ini lantas menjaring 68.000 komentar dalam kurun waktu 4 minggu, dengan sejumlah kritik dari pecinta lingkungan karena dianggap mengizinkan sejumlah pengecualian.

Ketua Gapki Joko Supriyono menuliskan, pengembangan minyak sawit perlu strategi yang matang. Pasalnya ada hambatan yang berbeda-beda di setiap negara ekspor.

“Eropa sebagai produsen rapeseed dan bunga matahari berupaya mempertahankan eksistensi komoditas itu dengan cara kampanye negatif sawit, serta hambatan lewat regulasi,” tulisnya dalam situs resmi Gapki.

Menurutnya, Indonesia perlu memprkuat perdagangan sawit melalui diplomasi, negosiasi, dan retaliasi.

Tag : kelapa sawit
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top
Tutup