Saham IPO, Berburu Cuan Sejak Menit Pertama

Saham IPO punya daya tarik tersendiri bagi investor ritel maupun institusi. Harapan harga bisa melonjak tinggi salah satunya. Namun, lonjakan harga saham IPO dinilai berisiko karena tidak mencerminkan fundamental perusahaan sesungguhnya.
Tim Bisnis.com
Tim Bisnis.com - Bisnis.com 18 Oktober 2019  |  14:20 WIB
Saham IPO, Berburu Cuan Sejak Menit Pertama
Saham IPO, Berburu Cuan Sejak Menit Pertama. - Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA - Saham IPO kerap diburu dari investor institusi sampai ritel. Daya tarik lonjakan harga pada periode awal melantai di bursa membuat banyak pihak memburu saham baru tersebut.

Beberapa emiten yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) memang kerap melonjak tinggi hingga terkena  auto reject batas atas (ARA). Dari aturan BEI, saham emiten yang terkena ARA jika lonjakan dalam periode sehari perdagangan melebihi 35%. 

Salah satu contohnya, PT Gaya Abadi Sempurna Tbk. yang resmi melantai di bursa pada 7 Oktober 2019. Emiten berkode SLIS itu menawarkan harga saham perdananya senilai Rp115 per saham.

Kini, harga sahamnya sudah melejit 965,21% menjadi Rp1.225 per saham. Artinya, dengan modal pembelian 1 lot [100 lembar saham] senilai Rp11.500, nilai investasi sudah melonjak menjadi Rp122.500.

Tak hanya SLIS, PT Kencana Energi Lestari Tbk. yang melantai di bursa pada 2 September 2019 juga mencatatkan lonjakan harga dalam waktu singkat. Emiten berkode KEEN itu menawarkan harga saham perdana senilai Rp396 per saham.

Dari harga penawaran perdana itu, harga saham KEEN melonjak 81,81% menjadi Rp720 per saham dalam empat hari. Sayangnya, pada hari kelima melantai di bursa, harga saham KEEN terus turun hingga saat ini berada di level Rp600 per saham.

Kejadian lonjakan harga IPO sesaat juga terjadi pada PT Itama Ranoraya Tbk. Emiten berkode IRRA itu resmi melantai di BEI pada 15 Oktober 2019 dengan harga penawaran Rp374 per saham.

Baru melantai di bursa, harga saham IRRA langsung melejit 49,73% menjadi Rp560 per saham. Namun, harga IRRA terus merosot, hingga perdagangan sesi I Jumat (18/10/2019), harga saham perseroan berada di level Rp494 per saham.

Seperti dikutip dari catatan Bisnis.com, lonjakan harga saham IPO belum tentu mencerminkan fundamental emiten tersebut.

Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani mencontohkan saham SLIS yang masih dalam tren menguat. Namun, partisipasi publik pada saham produsen mobil listrik itu sangat rendah. 

"Partisipasi publik dari rata-rata harian di bawah Rp100 juta atau di bawah 0,1% dari total kapitalisasi pasar perseroan," ujarnya.

Pengertian IPO

Penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) adalah aksi perusahaan melepas sebagian saham ke publik di bursa saham. Dengan melepas saham di publik, perusahaan bisa mendapatkan dana segar untuk ekspansi bisnis.

Dengan melantai di bursa, perusahaan wajib mempublikasikan laporan keuangan dan berbagai rencana korporasi ke publik. Keterbukaan informasi itu dinilai bisa membuat perusahaan lebih dipercaya, terutama jika ingin mencari mitra bisnis dan sebagainya.

Dari sisi investor ritel, saham IPO memiliki daya tarik dari peluang lonjakan harga. Namun, untuk bisa mendapatkan saham IPO tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perusahaan yang berencana IPO hanya melepas sebagian saham sehingga jumlahnya terbatas.

Di sini, investor ritel akan beradu dengan institusi untuk memperebutkan saham IPO yang terbatas. [cara mendapatkan saham IPO bisa dilihat di infografik].

Menanti Unikorn IPO

Selain konglomerasi besar seperti, Grup Djarum, Grup Wings, dan beberapa perusahaan lainnya, perusahaan rintisan atau startup kelas unikorn juga tengah didorong untuk melantai di bursa.

Dengan valuasi di atas US$1 miliar, ada ekspektasi pasar kalau saham unikorn sangat legit untuk dimiliki, meskipun ada juga yang pesimis dengan prospek saham unikorn setelah melihat nasib Uber di bursa saham Amerika Serikat (AS).

Isu teranyar, Tokopedia, platform dagang-el besutan William Tanuwijaya, dikabarkan mempertimbangkan rencana melantai di bursa. Namun, William enggan mengungkapkan waktu penawaran saham perdana Tokopedia akan dilakukan.

Di sisi lain, Bukalapak masih enggan untuk melantai di bursa. Pada awal tahun ini, Co-founder Bukalapak Fajrin Rasyid mengaku kewajiban publikasi informasi perusahaan dikhawatirkan bisa membocorkan rencana strategis dan inovasi perusahaan rintisan tersebut.

Soalnya, persaingan di industri teknologi sangat mengandalkan kemampuan dan kecepatan berinovasi.

Selain unikorn, Lion Air juga dikabarkan bersiap IPO dengan target dana yang dihimpun hingga Rp14 triliun. Sayangnya, pihak Lion Air masih enggan menanggapi rumor rencana melantai di bursa.

Rumor Lion Air melantai di bursa itu muncul dari pernyataan Direktur Penilaian Perusahaan BEI I gede Nyoman Yetna Setya. Dia menyatakan PT Lion Mentari yang mengoperasikan Lion Air bakal melantai di sana.

Jika Lion Air jadi melantai dibursa dan bisa menghimpun dana hingga Rp14 triliun, maskapai milik Rusdi Kirana itu akan menjadi emiten dengan nilai IPO terbesar di BEI.

Sampai saat ini, PT Adaro Energy Tbk. masih memegang status emiten dengan nilai IPO terbesar di BEI senilai Rp12,25 triliun. Emiten berkode ADRO itu melantai di BEI pada 16 Juli 2008.

Periset: Oliv Grenisia

Reporter: Azizah Nur Alfi, Rio Sandy Pratama, Rahmad Fauzan, Syaiful Millah

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ipo, saham

Tag : ipo, saham
Editor : Surya Rianto
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top