Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasokan Berlebih & Sanksi AS Jadi Pemicu Harga Minyak Bergerak Fluktuatif di 2018

Harga minyak mentah selama 2018 bergerak fluktuatif. Pemberian sanksi Amerika Serikat (AS) pada sejumlah negara di Timur Tengah hingga pasokan berlebih menjadi faktor perubahan harga sepanjang tahun ini
Mutiara Nabila & Pamuji Tri Nastiti
Mutiara Nabila & Pamuji Tri Nastiti - Bisnis.com 28 Desember 2018  |  17:16 WIB
Harga minyak mentah sepanjang tahun bergejolak dan terus tertekan khususnya kuartal IV - 2018 lantaran mendapat tekanan dari sejumlah faktor dari pemberian sanksi AS pada sejumlah negara di Timur hingga outlook surplus pasokan yang berpotensi berlanjut hingga 2019.

Bisnis.com, JAKARTA--Harga minyak mentah selama 2018 bergerak fluktuatif. Pemberian sanksi Amerika Serikat pada sejumlah negara di Timur Tengah hingga outlook surplus pasokan yang berpotensi berlanjut hingga 2019 menjadi faktor perubahan harga sepanjang tahun ini .

Mengawali tahun, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$60,36 per barel dan Brent US$66,50 per barel. Pada Februari, penguatan pasar saham membuat harga minyak bertambah panas dengan WTI mencapai US$64 per barel dan Brent US$67,50 per barel.

Pasokan produksi minyak Amerika serikat yang naik 10,05 juta barel per hari membuat harga tergelincir kembali ke  US$60 per barel dan Brent di bawah US$65 per barel.

Harga minyak mencapai angka tertingginya pada Rabu 3 Oktober 2018, saat harga WTI menembus US$75 per barel dan Brent US$85 per barel tertinggi sejak 2014.

Kenaikan harga pada Oktober tersebut disebabkan munculnya kekhawatiran akan pasokan menuju penerapan sanksi dari AS kepada Iran. Selain itu, jumlah rig pengeboran minyak AS menyusut sehingga produksi pasokan dari AS melambat.

Namun, kenaikan harga tersebut tak berlangsung lama, harga minyak mentah kembali anjlok bahkan ke bawah US$50 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli 2017. Kekacauan pasar finansial global dan kekhawatiran akan kelebihan pasokan minyak dari Amerika Serikat membayangi rencana OPEC+ untuk memperbanyak jumlah pemangkasan produksinya.

Pada perdagangan Rabu (26/12) harga minyak WTI naik tipis 0,21 poin atau 0,49% menjadi US$42,74 per barel dan mencatatkan penurunan hingga 29,26% sepanjang 2018 berjalan.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak wti
Editor : Rahayuningsih
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.



Berita Terkini Lainnya

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top