Bisnis Energi Ramah Lingkungan Diprediksi Stagnan

Bisnis energi baru dan terbarukan diprediksi masih stagnan pada 2019. Dari data Kementerian ESDM, 24 pembangkit listrik energi baru terbarukan dengan total 151 MW bakal beroperasi pada tahun ini.
Anitana Widya Puspa | 09 Januari 2019 15:12 WIB
Jalan Terjal Bisnis Energi Ramah Lingkungan. - Yayan Indrayana - Amri Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Bisnis energi baru dan terbarukan diprediksi masih stagnan pada 2019. Hal itu bisa dilihat dari target investasi energi ramah lingkungan yang turun 10% menjadi US$1,8 miliar pada tahun ini.

Direktur Jenderal Energi Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rida Mulyana mengatakan, penyesuaian target itu dilakukan setelah melihat pencapaian pada 2018.

Pada tahun lalu, realisasi investasi energi baru dan terbarukan hanya US$1,6 miliar atau hanya mencapai 79,6% dari target senilai US$2 miliar.

Adapun, target energi baru dan terbarukan senilai US$1,8 miliar pada tahun ini terdiri dari, US$1,2 miliar untuk panas bumi, US$0,01 miliar untuk bioenergi, US$0,5 miliar untuk aneka energi baru dan terbarukan, dan US$0,01 miliar untuk konservasi energi.

Investasi sektor energi disebut tidak bisa masuk secara cepat. Pasalnya, investasi sektor itu butuh perencanaan yang memakan waktu bertahun-tahun.

Rida mencontohkan, investasi panas bumi membutuhkan waktu 6 tahun sampai 7 tahun untuk proses perizinan sampai menghasilkan listrik.

Pada 2018, ada beberapa pembangkit listrik ramah lingkungan yang sudah beroperasi yakni, Pembangkit listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Sawit graha Manunggal berkapasitas 1 megawatt (MW), Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH) di NTT berkapasitas 1 MW, dan PLTA Merangin berkapasitas 4x87,5 MW di Jambi.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, 24 pembangkit listrik energi terbarukan dengan total kapasitas 151 MW bakal beroperasi pada tahun ini.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top