Maskapai Berharap Tarif Bagasi Berbayar Tidak Murah, Ini Alasannya

Formulasi biaya bagasi berbayar pada maskapai layanan minimum diharapkan tidak terlalu murah. Hal itu agar menjaga keselamatan penerbangan karena karakter mayoritas penumpang maskapai layanan minimum.
Rio Sandy Pradana | 01 Februari 2019 19:52 WIB
Polemik tarif bagasi berbayar. / Yayan Indrayana - Ilham Nesabana

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia National Air Carriers Association meminta perumusan regulasi baru soal bagasi tercatat berbayar agar mengakomodasi kepentingan maskapai.

Tarif bagasi berbayar diharapkan tidak terlalu murah demi keselamatan penerbangan.

Bila tarif bagasi yang terlalu rendah, hal itu bisa menyebabkan penumpang membawa barang berlebihan sehingga berisiko membahayakan keselamatan penerbangan. Tarif yang ditetapkan seharusnya masih dalam batas kewajaran.

Adapun, kebijakan bagasi berbayar dilakukan oleh maskapai layanan minimum.

Karakter penumpang maskapai layanan penuh dengan layanan minimum memiliki perbedaan terkait kebiasaan menggunakan bagasi.

Penumpangan maskapai layanan penuh biasanya membawa barang bagasi secukupnya.

Di sisi lain, penumpang maskapai layanan minimum sebagian besar membawa barang bagasi dengan volume besar. Biasanya mereka adalah tengkulak yang membeli barang dagangan dari luar kota untuk dijual lagi di daerah asalnya.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Air Carriers Association/INACA) IGN Askhara Danadiputra mengatakan,beban bagasi yang terlalu berat bisa berdampak terhadap volume bahan bakar yang dihabiskan untuk sekali penerbangan. Semakin berat pesawat, imbuhnya, bahan bakar yang dihabiskan akan semakin banyak dan cenderung boros.

Selain itu, bagasi tercatat juga mempengaruhi tingkat ketepatan waktu terbang (on time performance/OTP). Bila bagasi sedikit, dia menegaskan, rentang waktu antara block on hingga pesawat lepas landas akan semakin singkat.

Biasanya, pada saat pesawat berada di darat terdapat sejumlah biaya yang harus dikeluarkan, seperti biaya mendarat, parkir, jasa layanan darat (ground handling), bahan bakar saat mesin idle, dan sebagainya.

Dia menjelaskan, komponen biaya itu akan berdampak terhadap margin keuntungan LCC. Di sisi lain, maskapai tersebut tidak bisa menjual harga tiket terlalu tinggi atau melebihi tarif batas atas yang sudah ditentukan pemerintah.

“Regulator agar benar-benar menghitung dan jangan sampai maskapai LCC ini rugi dan akhirnya tutup,” ujarnya.

Sementara itu, Menhub Budi Karya Sumadi menyatakan kebijakan Kementerian Perhubungan soal bagasi tercatat berbayar akan bermuara pada penetapan tarif.

Menhub mengatakan akan melakukan pengkajian dan perumusan regulasi dalam bentuk peraturan menteri dalam 3 pekan hingga 4 pekan mendatang. Dia berharap regulasi tersebut bisa mengakomodasi permintaan masyarakat.

“Formulasinya seperti apa nanti akan kita tentukan karena harus mengharmonisasi beberapa pihak termasuk dengan pelaku-pelaku juga. Esensinya demikian ,” kata Budi Karya.

Tag : pesawat
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top