Berharap Momentum Kebangkitan Ekonomi Global di Tengah Ancaman Perang Dagang

Pertemuan para petinggi ekonomi dunia membawa aroma kebangkitan perekonomian global. Namun, sejumlah tantangan masih mengancam ekspansi negara-negara untuk lepas dari perlambatan ekonomi.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 18 April 2019  |  15:14 WIB
Berharap Momentum Kebangkitan Ekonomi Global di Tengah Ancaman Perang Dagang
prospek kebangkitan ekonomi global. / Radityo Eko - Husin Parapat

Bisnis.com, JAKARTA -- Kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang tidak agresif seperti sebelumnya, serta redanya perang dagang Paman Sam - China telah membawa optimisme kebangkitan ekonomi global. Kira-kira berapa cepat ekonomi global akan pulih?

Para kepala keuangan dunia bertemu di Washington D.C an melaporkan kondisi terkini ekonomi global. Isu sensitif terkait independensi bank sentral juga diangkat dalam pertemuan musim semi International Monetary Fund (IMF) tersebut.

Kepala Ekonom Bank Dunia Pinelopi Koujianou Goldberg mengatakan, saat ini tingkat ketidakpastian masih sangat tinggi.

"Sekarang bukan waktu ketika orang bersikap bullish terhadap ekonomi global. Namun, semua orang juga tidak merasa dunia dalam krisis besar," ujarnya seperti dikutip Bloomberg pada Senin (15/4/2019).

Bullish adalah suatu tren di mana kondisi pasar sedang naik atau menguat.

Adapun, pertumbuhan ekonomi global diprediksi mulai bangkit pada semester II/2019 dan mulai stabil pada 2020.

Ekonomi global pada tahun ini diprediksi tumbuh 3,3%. Pertumbuhan itu masih lebih rendah dibandingkan dengan 3,8% pada 2017.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin membangkitkan optimisme dengan mengatakan perundingan antara AS dengan China sudah dekat dengan akhir.

Lalu, Menteri Keuangan Inggris Philip Hammond menuturkan, pemerintah dan partai oposisi utama diperkirakan dapat mencapai kesepakatan terkait Brexit dalam beberapa pekan ke depan.

International Monetary Fund (IMF) pun telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global ke laju terlambat sejak krisis keuangan 10 tahun lalu. Bedanya, IMF mengenyampingkan risiko resesi.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengingatkan, saat ini ekonomi dunia tengah menghadapi masa yang sulit dan penuh risiko.

"Akuntabilitas, transparansi, dan komunikasi adalah komponen utama bagi bank sentral agar dapat dipercaya dalam menjalankan mandat sebagai regulator," ujarnya.

Kepala Departemen Moneter IMF Tobias Adrian memperingatkan campur tangan politik di bank sentral akan berbahaya.

"The Fed dibentuk agar para pejabat seniornya tidak mendengarkan politisi," ujarnya.

Bisa Menjadi Ancaman

Sementara itu, perselisihan dagang dan pengetatan kondisi keuangan dinilai masih menjadi ancaman serius terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Petinggi keuangan dunia mendesak negara untuk mengambil langkah yang lebih besar dalam mendorong pertumbuhan.

Ekspansi global yang saat ini bergerak pada laju paling lambat dalam 3 tahun, diperkirakan menguat tahun depan.

Namun, pejabat keuangan dunia menyatakan bank sentral dan otoritas fiskal memiliki opsi kebijakan terbatas untuk mendorong kebangkitan ekonomi global.

Perselisihan dagang, terutama antara China dan Amerika Serikat (AS) menjadi pendorong utama perlambatan ekonomi global. Belum lagi AS juga terlibat perang dagang dengan Uni Eropa.

Ketua Komite IMF dan Gubernur Bank Sentral Afrika Selatan mengatakan, tantangan ketegangan perdagangan, risiko geopolitik, dan ketidakstabilan politik, masih menjadi ancaman yang menghambat ekspansi pada tahun ini maupun tahun depan.

"Kami sepakat perlu bertindak segera untuk melindungi momentum ekspansi. Misalnya, kebijakan fiskal dibuat lebih fleksibel," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi global, imf

Tag : ekonomi global, imf
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top