Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Nyanyian Spotify Semakin Merdu

Spotify menduduki urutan pertama sebagai aplikasi musik dengan pangsa pasar terbesar. Siapa saja ya pesaingnya?
Duwi Setiya Ariyanti & Lukas Hendra TM
Duwi Setiya Ariyanti & Lukas Hendra TM - Bisnis.com 09 Juli 2020  |  16:30 WIB
Pengguna aplikasi musik semakin naik dengan Spotify sebagai pemegang pangsa pasar terbesar. (Bisnis/Duwi Setiya Ariyanti - Husin Parapat)

Bisnis.com, JAKARTA— Hasil riset beberapa lembaga menunjukkan bahwa Spotify, aplikasi musik asal Swedia itu menduduki puncak sebagai pemegang pangsa pasar terbesar secara global. 

Analis MIDiA, Mark Mulligan mengatakan bahwa pada kuartal I/2020, jumlah pelanggan aplikasi music mencapai 400 juta di seluruh dunia. Artinya, terdapat tambahan 30 persen atau 93 juta pelanggan baru.

Menurutnya, pertumbuhan masif itu berasal dari promosi gencar yakni murahnya biaya berlangganan, paket keluarga dan coba gratis menjadi pendorong masuknya pelanggan baru. Terlepas dari itu, ternyata Spotify masih tetap menjadi penggawa dengan pangsa pasar terbesar.

“Spotify tetap menjadi pemimpin yang sangat menonjol dalam hal pelanggan dengan 32 persen pangsa pasar. Pangsa pasar Spotify bertahan di antara 32 persen dan 34 persen setiap kuartal sejak 2015,” katanya dalam keterangan resminya.

Lebih lanjut, kendati Apple masih bercokol di posisi kedua, namun porsinya cenderung lebih kecil secara tahunan yakni dari 21 persen menjadi 18 persen. Hal itu kontras dengan yang terjadi dengan Amazon Music.

“Amazon Music yang menyelesaikan kuartal I/2020 dengan kenaikan pangsa pasar yakni 14 persen dari semula 13 persen pada tahun lalu,” katanya.

Di posisi keempat, terdapat Tencent Music Entertainment dengan posi 11 persen. Tencent sangat agresif di China dan saat ini perusahaan tersebut ingin menambah pelanggan 14 juta pada kuartal II/2020 atau lebih dari dua kali capaian tahun lalu.

Sementara itu, Google berada di urutan kelima dengan pangsa pasar 6 persesn namun merupakan buah dari perubahan haluan ke sistem berlangganan. Pada kuartal I/2018, pangsa pasar Google hanya menyentuh 3 persen.

Mulligan menilai bahwa apa yang terjadi hari ini semakin menarik karena masing-masing aplikasi mengambil segmentasi pasarnya sendiri. Adapun, YouTube Music menjaring Generasi Z dan milenial yang lebih muda.

Lalu, Amazon Music yang membawa pelanggan berusia lebih tua ke paket berlangganan. Kemudian Spotify dan Apple Music menjadi pilihan arus utama serta Deezer menikmati kesuksesan di pasar berkembang, utamanya Brasil dengan paket bundel prabayar.

Hasil riset ini didapatkan dari 25 layanan musin di 36 pasar. Saat ini, MIDiA telah membagi Timur Tengah dan Afrika Utara, Rusia dan Irlandia.

Analis Riset dari Counterpoint Technology Market Research, Abhilash Kumar mengatakan langganan berbayar tumbuh 32 persen secara tahunan pada 2019 dibanding pertumbuhan yang hanya 23 persen secara tahunan pada tahun sebelumnya pada jumlah pelanggan aktif bulanan (monthly active user/MAU).

Hal tersebut, lanjutnya, menunjukkan bahwa mereka siap untuk membayar streaming musik untuk pengalaman yang bebas repot. Meskipun, hal tersebut tidak sepenuhnya didorong oleh pengguna. Menurutnya, platform streaming musik mengikuti pendekatan dua langkah untuk mendapatkan pelanggan.

Dari hasil riset mereka yang dipublikasikan pada April 2020, menunjukkan bahwa sepanjang 2019 Spotify masih memuncaki pangsa pasar streaming musik dengan meraih porsi 31 persen dari total pendapatan dan porsi 35 persen dari total langganan berbayar.

 “Pertama mendaftarkan mereka ke platform mereka sebagai pengguna gratis melalui kampanye iklan yang sangat baik dan kedua menawarkan mereka dengan penawaran menarik untuk mentransfer mereka agar menjadi pelanggan berbayar," katanya.

Posisi kedua yang menguasasi pasar adalah Apple Music dengan porsi 24 persen dari total pendapatan dan porsi 19 persen dari total langganan berbayar. Hanya saja, karena Apple fokus pada segmen layanannya yang meliputi Apple Music, basis pelanggannya melonjak hingga 36 persen secara secara tahunan pada 2019. Sementara, subscription Amazon Music mencapai porsi 15 persen pada 2019 dibandingkan dengan 10 persen pada 2018.

"Spotify mempertahankan posisi teratasnya dengan bantuan kegiatan promosi seperti Premium Spotify gratis selama tiga bulan, pemotongan harga, kampanye khusus seperti Spotify dan fokus pada konten eksklusif,” ujarnya.

Pihaknya menyebut Spotify memenuhi ekspektasi bisnisnya pada semua parameter utama meskipun terjadi virus corona. MAU dan pelanggan premium tumbuh 31 persen secara tahunan masing-masing mencapai 286 juta dan 130 juta pada periode tersebut.

Kumar dalam keterangannya mengungkapkan bahwa pencapaian itu didorong oleh kinerja regional yang kuat di Amerika Latin dan Asia Pasifik. MAU tumbuh 36 persen secara tahunan di Amerika Latin sementara itu tumbuh 65 persen secara tahunan di Asia Pasifik dan Afrika Timur Tengah karena kinerja yang baik dari Meksiko, Brasil, dan India.

Di tengah wabah virus corona, pada tingkat global, hampir tidak ada dampak pada pelanggan dan MAU berbayar. Faktanya, MAU baru dan yang diaktifkan kembali tumbuh selama periode penguncian di pasar termasuk Amerika Utara, Amerika Latin, dan Asia Pasifik. Khususnya, untuk rata-rata triwulanan, rasio pengguna aktif harian (daily active user/DAU) dengan pengguna aktif bulanan lebih tinggi dibanding kuartal I/2019.

Awal akhir Februari, Spotify melihat efek negatif dari wabah karena ada penurunan yang signifikan dalam DAU dan konsumsi di Spanyol dan Italia yang sangat terpengaruh. Namun, pasar telah mulai pulih di pasar-pasar ini selama minggu terakhir bulan Maret.

Ketika orang-orang terus tinggal di rumah, penggunaan mobil, perangkat yang dapat dipakai, dan platform web telah menurun, tetapi kesenjangan ini dipenuhi dengan peningkatan daya tarik pada TV pintar dan konsol game yang naik lebih dari 50 persen.

“Ada pergeseran dalam pola dari mendengarkan saat pulang pergi ke mendengarkan di rumah. Podcast yang berkaitan dengan kesehatan dan meditasi telah menunjukkan peningkatan,” tulisnya.

Hal lain yang mendorong pertumbuhan yakni ketersediaan konten eksklusif seperti podcast, konten dari sumber asli yang menarik orang ke platform yang pada akhirnya menjadikan mereka sebagai pelanggan.

Tak hanya itu, dia menilai kegiatan promosi seperti pemotongan harga langganan di pasar negara berkembang, penawaran paket bundel bersama perusahaan operator telekomunikasi juga mendorong ke pertumbuhan.

“Kami berharap bahwa langganan streaming musik online tumbuh lebih dari 25 persen secara tahunan hingga melebihi 450 juta langganan pada akhir 2020,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

google youtube amazon Virus Corona Spotify pajak digital
Editor : Duwi Setiya Ariyanti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.



Berita Terkini Lainnya

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top