Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv logo xplore

Manufaktur Indonesia Melawan Perlambatan Asia

Indeks manufaktur Indonesia pada Desember 2023 menggenapkan ekspansi kegiatan pabrik sepanjang tahun lalu, sekaligus menjadi salah satu yang terbaik di Asia.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 05 Januari 2024  |  15:00 WIB
Bisnisgrafik///Bisnisdotcom///Manufaktur/Indonesia/melawan/Arus/Perlambatan/Asia///Afandi

Bisnis.com, JAKARTA - Menutup 2023, manufaktur Indonesia tetap berada di zona ekspansi, dan menjadi yang terbaik di Asia Tenggara.

Pada Desember 2023, Di lingkup Asia, purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia mencapai level 52,2, masih berada di zona ekspansi dan naik dari bulan sebelumnya 51,7. Di lingkup Asia, PMI manufaktur Indonesia hanya kalah dari India yang mencapai 54,9.

Menurut survei PMI manufaktur S&P Global, sebagian besat wilayah Asia mengalami perlambatan dalam pesanan baru dan volume produksi pada Desember 2023. Biaya input pabrik juga meningkat dan kinerja rantai pasokan memburuk.

Aktivitas manufaktur di Asia Tenggara juga menyusut pada Desember, dengan Thailand, Malaysia, Myanmar dan Vietnam masih berada di zona merah. Indonesia mencatatkan angka tertinggi, dengan Filipina menyusul kemudian dengan PMI manufaktur 51,5.

"Meskipun penurunan yang terjadi baru-baru ini di sektor manufaktur Asean secara keseluruhan hanya bersifat ringan, tanda-tanda pelemahan permintaan yang semakin besar dapat mengakibatkan pengurangan produksi batu saat memasuki 2024," kata ekonomi S&P Global Maryam Baluch.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan ke depan, sejumlah kebijakan masih perlu dibenahi untuk mempertahankan ekspansi kinerja manufaktur Indonesia. Salah satunya yakni penerapan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Masih banyak perusahaan industri yang belum menerima manfaat harga gas US$6 per MMBTU.

"Pada 2023, hanya 76,95% di Jawa Bagian Barat atau hanya sekitar 939,4 BBTUD dibayar dengan harga US$6,5 per MMBTU,
sisanya harus dibayar dengan harga normal sebesar US$9,12 per MMBTU," sebutnya.

Kebijakan lainnya yang dibutuhkan adalah pengendalian impor. Dia meyakini bahwa PMI manufaktur Indonesia bisa mencapai tingkat yang lebih tinggi jika pelaksanaan HGBT dan pengendalian impor berjalan beriringan dengan baik.

"Sebab, ada opportunity lost yang dihadapi sektor manufaktur kita akibat kedua hal tersebut. Selain itu, perlu didukung kebijakan untuk menjaga ketersediaan bahan baku sehingga sektor
industri manufaktur kita tetap berproduksi dengan baik dalam memenuhi pasar domestik dan ekspor," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur industri manufaktur indeks manufaktur pmi manufaktur kinerja manufaktur
Editor : Reni Lestari


Berita Terkini Lainnya

Banner E-paper
back to top To top