Prospek Investasi Reksa Dana, Ini Potensi Cuan yang Agresif sampai Berisiko Rendah

Reksa dana campuran di rekomendasikan bagi investor dengan profil risiko moderat, tetapi prospek reksa dana pendapatana tetap dan saham punya peluang kinclong sampai akhir tahun ini. Jadi, kamu pilih yang mana?
Dwi Nicken Tari | 15 April 2019 17:43 WIB
Prospek investasi reksa dana pada tahun ini. - Husin Parapat

Bisnis.com, JAKARTA -- Reksa dana campuran dinilai menjadi instrumen yang paling rendah risikonya dibandingkan dengan pendapatan tetap dan saham pada tahun ini. Namun, reksa dana pendapatan tetap dan saham memiliki peluang keuntungan yang kinclong pada 2019.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan, kinerja reksa dana pendapatan tetap cukup positif sepanjang kuartal I/2019. Salah satu faktornya adalah pasar obligasi yang juga dalam tren positif.

"Dari awal tahun, obligasi mengalami kenaikan, sedangkan saham masih fluktuatif," ujarnya kepada Bisnis.

Dia mengatakan, reksa dana saham belum menunjukkan cuan yang positif meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) sudah terkerek naik. Hal ini disebabkan investor mengambil posisi wait and see jelang pemilu pada 17 April 2019.

"IHSG memang naik, tetapi rata-rata reksa dana saham justru turun. Ini menunjukkan pilihan reksa dana saham sampai Maret 2019 masih kalah dengan IHSG," ujarnya.

Rudiyanto menilai, prospek pasar obligasi yang bagus bisa membuat cuan reksa dana pendapatan tetap tumbuh 8% sampai 9%.

Reksa dana saham juga tetap layak dilirik. Panin Asset Management memperkirakan IHSG masih bisa menguat ke kisaran 7.200 sampai 7.400.

Senada dengan Rudiyanto, Vice President Intermediary Business Schroders Indonesia Renny Raharja mengatakan, sejumlah momentum pada tahun ini bisa menopang kinerja reksa dana saham dan pendapatan tetap.

"Penguatan kurs rupiah, inflasi terjaga, dan potensi penurunan Bank Indonesia bisa menjadi penopang tren positif pasar obligasi," ujarnya.

Renny mengatakan, jika semua indikator itu berjalan ke arah yang positif, yield obligasi pemerintah bisa membaik ke kisaran 7% pada akhir tahun ini.

Lalu, pasar saham juga akan positif seiring stabilitas ekonomi yang berkesinambungan. Pertumbuhan perusahaan yang kondusif diharapkan menjadi angin segar bagi pergerakan indeks.

"Apalagi, kalau faktor politik juga memberikan sentimen positif," ujarnya.

Instrumen Risiko Rendah

Sementara itu, Rudiyanto dan Renny kompak merekomendasi produk reksa dana campuran untuk instrumen berisiko rendah.

Rudiyanto menilai kalau investor yang profil risikonya moderat bisa masuk ke reksa dana campuran. Pasalnya, aset penopang kinerjanya saat ini mayoritas berasal dari pasar obligasi.

Di sisi lain, Renny juga merekomendasikan reksa dana campuran. Alasannya, risiko lebih rendah ketimbang masuk ke instrumen dengan aset langsung obligasi atau saham.

Berdasarkan data Infovesta Utama per 5 April 2019, return reksa dana pendapatan tetap dari indeks Infovesta Fixed Income Fund Index sebesar 3,25% secara year to date (ytd).

Nilai return itu lebih baik ketimbang indeks acuan obligasi yakni, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) yang sebesar 2,53%.

Lalu, reksa dana saham yang tercermin dalam Infovesta Equity Fund Index mencatatkan cuan 1,21%. Hasil return itu lebih rendah ketimbang IHSG yang sebesar 4,51%.

Tag : reksa dana, investasi
Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top