Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Suharso Monoarfa, Menteri dengan Kekayaan 'Cuma' Rp84 Juta

Suharso Monoarfa sempat menjadi omongan publik setelah menjadi menteri dengan kekayaan paling rendah. Dari datal LHKPN, harta Suharso tercatat 'cuma' sekitar Rp84 juta. Bener apa enggak ya? berikut faktanya
Oliv Grenisia
Oliv Grenisia - Bisnis.com 30 Oktober 2019  |  12:00 WIB
Sosok Menteri Berharta Rp84 Juta  -  Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA – Suharso Monoarfa menjadi omongan publik setelah menjadi menteri dengan kekayaan paling sedikit senilai Rp84 juta. Namun, benarkah kekayaan Suharso yang merupakan plt. Ketua Umum PPP dan juga Kepala Bappenas itu ‘cuma’ Rp84 juta?

Daftar kekayaan Suharso senilai Rp84 juta itu tercatat dalam Laporan Harta dan Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang disampaikan pada 14 Maret 2019. Saat itu, Suharso melaporkan kekayaannya karena posisinya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Dalam laporan itu, kekayaan Suharso hanya tercatat arus kas senilai Rp84,27 juta. Padahal, rincian harta kekayaan itu diunggah oleh penyelenggara negara pada posisi Suharso tersebut. Catatan LHKPN itu menuliskan jika ada harta yang tidak dilaporkan, maka penyelenggara negara terkait harus bertanggung jawab.

Di sisi lain, pengumuman LHKPN Suharso itu sudah mendapatkan status lengkap berdasarkan hasil verifikasi pada 15 Juli 2019.

Nah, apakah artinya kekayaan sang menteri yang bakal mengurus perpindahan ibu kota Indonesia itu benar-benar ‘Cuma’ Rp84 juta?

Bisnis.com mengulik jejak historis karir dan kekayaan Suharso lewat data-data resmi terkait. Dari data LHKPN, Suharso telah mencatatkan harta kekayaannya sejak 2004. Dari situ, tampak perkembangan harta kekayaan Suharso.

Secara historis, kekayaan Suharso terus menanjak dari 2004 hingga 2009. Pada 2004, kekayaan Suharso mencapai Rp3,23 miliar.

Nilai kekayaan itu termasuk dua harta tidak bergerak berupa tanah dan bangunan. Suharso memiliki properti di Bogor dengan luas tanah 987 meter persegi senilai Rp501,2 juta. Properti itu hasil sendiri dan dibeli pada 1996-1997.

Lalu, properti kedua Suharso ada di Bandung dengan luas tanah 257 meter persegi senilai Rp103,27 juta. Properti itu hasil sendiri sang menteri pada 1995-1996.

Selain itu, Suharso mencatatkan kepemilikan surat berharga senilai Rp655,57 juta. Lalu, dia juga memiliki empat kendaraan, yakni motor Yamaha produksi 1996, Mobil Honda Odyssey produksi 2000, Honda CR-V produksi 2002, dan Honda Newcity tahun 2004.

Tiga tahun kemudian,  harta Suharso bertambah menjadi Rp3,55 miliar. Kenaikan nilai kekayaan itu didongkrak oleh kenaikan harga properti.

Nilai properti Suharso di Bogor dengan luas tanah 987 meter persegi melejit sekitar 121,46% menjadi Rp1,11 miliar, sedangkan nilai propertinya di Bandung dengan luas tanah 257 meter naik 125,59% menjadi Rp228,86 juta.

Selain itu, Suharso juga menambah koleksi propertinya di Bogor. Dia membeli tanah seluas 4.318 meter persegi senilai Rp207,26 juta pada 2006.

Nilai kekayaan Suharso pada 2009 melejit lebih tinggi lagi menjadi Rp13,39 miliar. Kenaikan nilai kekayaan itu didorong oleh kenaikan nilai properti dan kepemilikan logam mulia.

Nilai properti Suharso terus meningkat pada 2009. Nilai properti di Bogor dengan luas tanah 987 meter persegi melejit 30,63% menjadi Rp1,45 miliar dibandingkan dengan Rp1,11 miliar pada 2007.

Begitu juga dengan nilai properti di Bandung dengan luas tanah 257 meter melejit 42,05% menjadi Rp325,11 juta. Lalu, nilai lahan seluas 4.318 meter di Bogor juga naik sebesar 70,83% menjadi Rp354,07 juta.

Suharso pun membeli dua harta tidak bergerak baru, yakni lahan di Bogor seluas 3.545 meter senilai Rp290,69 juta  dan bangunan di Jakarta Pusat seluas 162 meter persegi  senilai Rp1,88 miliar.

Dia pun mencatatkan kepemilikan logam mulia hingga Rp7,81 miliar. Pembelian logam mulia itu dicatat menggunakan hasil sendiri sejak 1991-2007.

Namun, kekayaan Suharso yang tercatat pada 2019 hanya tersisa Rp84 juta yang terdiri dari arus kas dan setara kas.

Sempat Mundur dari Jabatan Menteri

Dari berbagai karir panjangnya sebagai pengusaha maupun politikus, Suharso pernah mengundurkan diri dari jabatan menteri pada era kabinet Susilo Bambang Yudhoyono jilid II.

Saat itu, Suharso ditunjuk SBY untuk menjadi Menteri Perumahan Rakyat. Namun, dia memutuskan mundur pada 2011 dengan alasan pribadi.

Setelah itu, Suharso dikabarkan kembali bergelut di dunia bisnis bidang manufaktur dan kimia. Dalam catatan riwayatnya, setelah mundur dari posisi Menteri, Suharso menjadi chairman di Rheno Resources.

Menilik ke situs Kemeterian ESDM, Rheno Resources tercatat sebagai salah satu perusahaan tambang. Namun, tidak ada informasi detail yang tercantum terkait perusahaan tersebut.

Nah, kalau nanti keluar data kekayaan terbaru sang menteri, kira-kira sudah bertambah atau belum ya?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Suharso Monoarfa
Editor : Surya Rianto
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.



Berita Terkini Lainnya

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top